ANALISIS SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI ZONA REHABILITASI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI, JEMBER, JAWA TIMUR_Suryani Dwi Cahya_121201042
Resume Sosiologi Penyuluhan
Kehutanan Semester Antara
INTERAKSI
SOSIALDAN EKONOMI MASYARAKAT SEKITAR HUTAN
(Kasus di desa Andongrejo,
Wonoasri, Curahnongko dan Sanenrejo)
ANALISIS
SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI ZONA REHABILITASI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI,
JEMBER, JAWA TIMUR
|
oleh:
|
|
|
Suryani Dwi Cahya
|
141201042
|
Taman
Nasional Meru Betiri (TNMB) yang ditetapkan sejak tahun1997 memiliki potensi
yang mampu menjalankan ketiga embanan (mission) juga merupakan ciri khas Taman
Nasional terdiri dari : 1. Perlindungan sistem penyangga kehidupan, 2.
Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya dan 3.
Pemanfaatan secara lestari sumberdaya hayati dan ekosistemnya. Nilai-nilai
penting yang terkandung dalam Taman Nasional seperti perlindungan fungsi
hidrologi, potensi keanekaragaman hayati dan potensi pariwisata alam, sangat
besar manfaatnya bagi masyarakat sekitar daerah penyangga.
Keberadaan
Taman Nasional sangat besar sekali manfaatnya bagi masyarakat desa sekitar
kawasan. Banyak diantara mereka mengambil hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan
hidup sehari-hari dengan cara menjual hasil hutan bahkan ada sebagian penduduk
yang menjadikan sebagai pekerjaan pokok. Balai Pengelolaan DAS SampeanMadura
(2002) melaporkan bahwa Taman Nasional Meru Betiri yang mempunyai luas 58.000
Ha, sekitar 4.023 Ha telah rusak tanpa vegetasi atau menjadi lahan usahatani
tanaman semusim. Dengan kondisi di kawasan demikian, maka kawasan tersebut
ditetapkan sebagai Zona Rehabilitasi. Hubungan saling ketergantungan manusia
dan hutan dalam suatu sistem interaksi kehidupan telah berlangsung lama (Rush,
2003). Masyarakat di dalam dan sekitar hutan banyak menggantungkan hidupnya
pada keberadaan hutan (Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 1998) dan memiliki
hubungan erat dengan hutan (Mubyarto et al, 1992).
Tujuan
Adapun tujuan pembuatan resume yaitu:
1. Mengetahui
jenis penggunaan lahan.
2. Mengetahui
jumlah dan kepadatan penduduk.
3. Mengetahui
keadaan sosial ekonomi penduduk
4. Mengetahui
kegiatan masyarakat di Taman Nasional
5.
Mengetahui upaya Taman Nasional
terhadap masyarakat dan kegiatan rehabilitasi
1. Jenis dan
Luas Penggunaan Lahan
Penggunaan
lahan oleh masyarakat belum dilakukan secara optimal dalam arti bahwa
pengolahan tanah khususnya lahan persawahan masih dilakukan secara tradisional
dan sebagian besar belum mendapatkan irigasi teknis. Luas penguasaan lahan petani relatif sempit dan hal ini akan
mempengaruhi tingkat pendapatan dan usahatani yang mereka lakukan, kepemilikan
rata-rata petani di kawasan penyangga Taman Nasional Meru Betiri seluas 0.20
ha/kk. Masyarakat yang masih miskin lahan tetap akan menjadi ancaman bagi
program rehabilitasi di kawasan penyangga. Pada dasarnya pemanfaatan lahan di
kawasan Penyangga bertentangan dan melanggar hukum, namun desakan ekonomi
masyarakat sekitar kawasan penyangga telah membuat mereka terpaksa
melakukannya.
2. Jumlah dan
Kepadatan Penduduk
Penduduk di
desa kajian merupakan campuran dari suku Jawa dan Madura, seperti di Desa
Curahnongko (60%) penduduknya adalah suku Madura umumnya. Dari Aspek
Pendidikan, sebagian masyarakat di sekitar TN MB berpendidikan Sekolah Dasar
(60,69%) berturut – turut diikuti SLTP (21,58%) SLTA (6,77%) dan Sarjana
(0,96%). Jenis mata pencaharian masyarakat sebanyak 9.526 orang (44.3% ,petani,
dan 6.753 orang (31.5%) buruh tani. Sebagian besar petani adalah petani lahan
basah. Disamping petani, mata pencaharian penduduk lainnya adalah swasta 2.467
orang (11.5%) Lain-lain 972 orang (4,5%), Pedagang 756 (3.5%) tukang 732 orang
(3.4%), PNS / ABRI 224 orang (1.04%) dan yang paling rendah adalah nelayan
hanya 53 orang (0.25%) karena yang berprofesi sebagai nelayan terdapat di Desa
Andongrejo.
3. Keadaan
Sosial Ekonomi
Penduduk
daerah penyangga Taman Nasional Meru Betiri mempunyai luas pemilikan lahan
sangat sempit, tingkat pendidikan rendah dan tingkat pendapatannya juga rendah.
Kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Meru Betiri
akan selalu berpengaruh langsung terhadap upaya pelestarian sumberdaya alam.
Kondisi sosial ekonomi masyarakatnya relatif rendah umumnya didukung pula
dengan tingkat pendidikan yang rendah, ini menyebabkan kurangnya pengertian dan
pengetahuan masyarakat pada upaya perlindungan kawasan konservasi. Dengan
demikian peran serta mereka pada upayaupaya
konservasi masih sulit
diharapkan. Sedangkan mata pencaharian yang utama di lokasi kajian (80%) adalah
petani dan buruh tani sedangkan sisanya PNS/ ABRI, pedagang, nelayan dan
swasta. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan masyarakat, maka daerah penyangga
Taman Nasional Meru Betiri dijadikan alternatif bagi pemenuhan kebutuhan pokok
hidupnya. Kontribusi pendapatan yang berasal dari pengambilan hasil hutan
penduduk daerah penyangga Taman Nasional Meru Betiri rata-rata sebesar Rp.
763.252,5 pertahun atau sebesar 16,80%. Pendapatan yang tinggi berasal dari
hasil hutan tersebut diperoleh bukan dari kegiatan mengambil hasil hutan
sendiri, melainkan dari perdagangan hasil hutan.
4. Kegiatan
Masyarakat di Taman Nasional
Pada umumnya
masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional mempunyai kebiasaan mengambil
tumbuhan dan satwa liar yang berada di dalam kawasan Taman Nasional. Kebiasaan
masyarakat tersebut jelas melanggar Undang-Undang. Sebagai salah satu upaya
untuk mengatasi hal tersebut antara lain perlu memberikan pelatihan
pembudidayaan berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar yang memberikan nilai
ekonomis pada masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional. Untuk melaksanakan
hal tersebut diperlukan kerjasama antara pihak Pengelola Taman Nasional dengan
pihak perguruan tinggi serta pihak lain terutama dalam hal dukungan dana dari
pemerintah, sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar Taman Nasional
maupun bagi Pengelola Taman Nasional. Kegiatan masyarakat yang semula terbiasa
dengan mengambil hasil hutan dari kawasan Taman Nasional dapat beralih profesi.
Dengan membuat jamu tradisional, selain dapat memberikan penghasilan tambahan
bagi masyarakat sekitar Taman Nasional juga dapat mengubah perilaku, yang
semula mengambil hasil hutan dari Taman Nasional menjadi tidak mengambil karena
kesibukan membuat jamu. Sehingga volume untuk masuk ke Taman Nasional jadi
berkurang. Hal ini dapat mendukung kelestarian Taman Nasional dan dapaat
mensejahterkan masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional.
5. Upaya Taman
Nasional Terhadap Masyarakat dan Kegiatan Rehabilitasi
Upaya
Pengelola Taman Nasional Meru Betiri untuk mencapai suatu keberhasilan program
Rehabilitasi di kawasan penyangga melalui tahapan-tahapan, seperti sosialisai
dengan masyarakat sekitar Taman Nasional dalam membuat
aturan-aturan tentang
penggunaan lahan di Taman Nasional. Dalam hal ini pihak pengelola Taman Nasional
bersama masyarakat dan Lembaga Swadaya Masyarakat sekitar Taman Nasional
membuat draf aturan-aturan yang harus disepakati bersama. Setelah aturan
disepakati bersama, disosialisasikan lagi ke masyarakat di kawasan penyangga,
masing-masing Kepala Keluarga mendapatkan lahan garapan seluas 0,25 Ha, setelah
lima tahun wajib mengajukan ijin lagi. Setiap dua tahun diadakan evaluasi
terhadap lahan garapan apakah masyarakat telah melakukan seperti pada
perjanjian, apabila ada masyarakat yang tidak melakukan rehabilitasi seperti
dalam perjanjian akan diberi sangsi bahkan bisa dicabut ijinnya.
Kesimpulan
Faktor
sosial dan ekonomi masyarakat di kawasan Taman Nasional Meru Betiri masih
tergolong rendah, hal ini terlihat dari besarnya pendapatan dari lahan
pertanian dan di luar pertanian. akan tergantung pada besar kontribusi
pengambilan hasil hutan terhadap pendapatan keluarga. Kontribusi pendapatan
yang berasal dari pengambilan hasil hutan penduduk daerah penyangga Taman
Nasional Meru Betiri rata-rata sebesar Rp. 763.252,50- pertahun atau sebesar
16.80%. Pendapatan yang tinggi berasal dari hasil hutan tersebut diperoleh
bukan dari kegiatan mengambil hasil hutan, melainkan dari perdagangan hasil
hutan. Dengan memperhatikan kondisi sosial ekonomi masyarakat di kawasan
penyangga, maka kegiatan rehablitasi dengan pengembangan sosial forestry akan
sangat tepat.
SUMBER
Forum Geografi, Vol. 20, No. 1, Juli
2006: 55 - 67
Komentar
Posting Komentar