Hasil Hutan Non Kayu tentang Lebah Madu_Abdul Rifqi Asfi_141201156


SOSIOLOGI KEHUTANAN
Makalah Hasil Hutan Non Kayu tentang Lebah Madu
 

DISUSUN OLEH :

NAMA      : ABDUL RIFQI ASFI
NIM          : 141201156






I.      PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
Taman Nasional Kutai yang ditetap-kan berdasarkan Keputusan Menteri Ke-hutanan No.325/Kpts-II/1995 dengan lu-as 198.629 ha, memiliki berbagai tipe ve-getasi utama yaitu vegetasi hutan pantai, hutan mangrove, hutan rawa air tawar, hutan kerangas, hutan genangan dataran rendah, hutan ulin/meranti/kapur dan hu-tan Dipterocarpaceae campuran (Direkto-rat Jendral Perlindungan Hutan dan Kon-servasi Alam, 2003). Disamping itu, di-jumpai keanekaragaman satwa mamalia seperti beberapa jenis primata yaitu orang utan (Pongo pygmaeus Mario Linnaeus, 1760), owa kalimantan (Hylobates muel-leri Kloss, 1929), bekantan (Nasalis lar-vatus Wurmb, 1787), kera ekor panjang (Macaca fascicularis Raffles,1823), be-ruk (Macaca nemestrina Linnaeus,1766) dan kukang (Nycticebus coucang bornea-nus Boddaert,1787); jenis ungulata dian-taranya adalah banteng (Bos javanicus lo-wi Lydekker,1912), rusa sambar (Cervus unicolor brookii Kerr.,1792), kijang (Muntiacus muntjak pleiharicus Zumer-nam, 1780) dan kancil (Tragulus javani-cus klossi Osbech, 1765); jenis karnivora seperti beruang madu (Helarctos Malaya-nus euryspilus Raffles, 1821 ) dan kucing kepala datar (Priohailurus planiceps Vi-gors dan Horsfield,1827) (BAPPENAS, 2003). Namun, sejak tahun 2000-an, taman nasional ini menghadapi permasalahan seperti kebakaran hutan, pembalakan ille-gal dan perambahan oleh masyarakat yang membuka lahan untuk pemukiman, perladangan serta prasarana umum (Ta-man Nasional Kutai, 2010). Kerusakan habitat ini mengakibatkan satwa liar seperti orangutan yang populasinya hanya tinggal sekitar 2.000 individu, mencari makan ke luar kawasan taman nasional yaitu ke daerah penyangga seperti kebun rakyat dan hutan tanaman industri (HTI) PT. Surya Hutani Jaya. Di daerah ini orangutan mencari pakan berupa palawija serta kulit dan daun muda akasia (Acacia auriculiformis) (Ambrosium, 2010)
Dampak perambahan hutan menye-babkan berkurangnya luas kawasan hu-tan, saat ini luas kawasan hutan yang masih tersisa sekitar 145.000 ha atau 73%, berupa hutan primer, sekunder, rawa, belukar rawa, mangrove, sedang-kan sisanya 53.629 ha atau 27%, berupa belukar, semak, alang-alang, tanah terbu-ka, tambak, pertanian campuran, pemuki-man masyarakat serta sarana dan pra-sarana (Taman Nasional Kutai, 2010).
Pembangunan industri di bidang per-tambangan batubara, pembuatan pupuk dan pengolahan kayu memacu kedatang-an masyarakat pendatang ke Kalimantan Timur. Perusahaan-perusahaan tersebut diantaranya adalah PT. Kaltim Prima Coal, PT. Pupuk Bontang, PT. Pupuk Kaltim, HTI PT. Surya Hutani Jaya dan HTI PT. Kiani Lestari. Lokasi perusahaan terletak di perbatasan TNK atau di dae-rah penyangganya. Dengan berjalannya waktu, banyak pekerja perusahaan yang pada akhirnya mengalami pemutusan hu-bungan kerja (PHK) seperti yang terjadi pada ex HTI PT. Kiani Lestari. Sebagai akibatnya, karena keterbatasan pengeta-huan dan keterampilan yang dimiliki, mereka melakukan pembukaan hutan dan memanfaatkan sumberdaya alam di TNK untuk membangun rumah dan berladang. Selanjutnya, masyarakat transmigran atau pendatang dan masyarakat lokal yang mengetahui hal ini kemudian beranggap-an bahwa perambahan hutan merupakan suatu peluang untuk memperluas lahan garapan dan meningkatkan pendapatan. Penelitian ini bertujuan untuk memper-oleh informasi tentang kondisi interaksi masyarakat di dalam kawasan maupun daerah penyangga TNK, melalui wawan-cara dengan responden sebanyak 33 KK (Kepala Keluarga) yang dipilih secara purposive. Selanjutnya penelitian ini juga mencoba, memberikan beberapa alternatif solusi dari permasalahan perambahan hu-tan yang terjadi dalam bentuk interaksi masyarakat dengan kawasan untuk men-dukung pengelolaan kawasan yang lesta-ri. Diharapkan hasil penelitian ini ber-manfaat bagi beberapa pihak yang terkait dan turut menangani permasalahan ekolo-gi dan sosial ekonomi di daerah penyang-ga Taman Nasional Kutai, sehingga ke-lestarian taman nasional ini dapat diperta-hankan.



















II. BAHAN DAN METODE
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Pengamatan lapangan dilakukan pada bulan Maret tahun 2009, bertempat di da-erah penyangga dan di dalam kawasan TNK dimana masyarakatnya merupakan masyarakat campuran, yaitu lokal dan pendatang dari berbagai etnis seperti Kutai, Dayak, Banjar, Bugis, Tator dan Jawa. Masyarakat yang tinggal di daerah penyangga adalah penduduk Desa Singa Geweh. Sedangkan, masyarakat yang langsung berkaitan dengan TNK dengan melakukan perambahan hutan dan pe-manfaatan sumberdaya alam berupa potensi biologi dan ekologi adalah etnis Kutai, Da-yak, Jawa dan Bugis.
B. Bahan dan Alat Penelitian
Bahan yang digunakan dalam peneli-tian ini adalah peta kerja kawasan TNK (1:250.000) untuk mengetahui kawasan yang dirambah, buku identifikasi burung dan ikan, serta kuesioner, sedangkan per-alatannya adalah kamera, binokuler, alat ukur tinggi pohon dan pita diameter.
C.Metode Penelitian
1.  Prosedur Kerja
Data yang dikumpulkan meliputi ti-pologi masyarakat, sosial ekonomi, teknis pengelolaan lahan dan pemanfaatan sum-berdaya alam oleh masyarakat. Hal ini di-lakukan melalui wawancara dengan res-ponden yang dipilih dan dianggap dapat mewakili, serta menggunakan kuesioner yang telah disiapkan sebelumnya. Data sekunder berasal dari monografi desa dan studi pustaka. Jumlah responden untuk tiap etnis tergantung pada jumlah KK yang ada serta tingkat keterkaitannya de-ngan pemanfaatan sumberdaya alam. Responden di masing-masing etnis rata-rata 25-30% adalah sebagai berikut: etnis Kutai (10 KK dari 30 KK), etnis Dayak (5 KK dari 20 KK), etnis Jawa ( 8 KK dari 22KK) dan etnis Bugis (10 KK dari 35 KK).
2.  Analisis Data
Data dan informasi dikompilasi da-lam bentuk tabel yang dianalisis secara deskriptif dan evaluatif yang meliputi ti-pologi masyarakat di daerah penyangga dan di dalam kawasan TNK, potensi dan pemanfaatan sumberdaya alam oleh ma-syarakat lokal dan pendatang serta pola usahatani kebun rakyat pada berbagai etnis di daerah penyangga TNK. Disam-ping itu dicoba dirumuskan beberapa al-ternatif solusi dari permasalahan peram-bahan hutan untuk mendukung pengelo-laan kawasan yang lestari. Identifikasi je-nis tumbuhan dilakukan di laboratorium herbarium Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi.






























III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Tipologi Masyarakat di Kawasan dan Daerah Penyangga TN Kutai
Masyarakat yang ada di daerah pe-nyangga dan di dalam kawasan TNK ber-asal dari berbagai etnis seperti Kutai, Da-yak, Banjar, Bugis, Tator dan Jawa.Kam-pung Jawa merupakan wilayah dimana masyarakat yang berasal dari etnis Jawa bertempat tinggal dengan jumlah pendu-duk sebanyak 22 KK. Mayoritas pendu-duk kampung Jawa adalah peserta trans-migran yang datang ke Provinsi Kaliman-tan Timur pada tahun 1992. Sementara itu, penduduk Desa Singa Geweh berasal dari beberapa etnis yang berbeda yaitu Kutai, Dayak dan Banjar. Pola interaksi dengan lingkungan setempat serta pola usahatani yang dikembangkan oleh ketiga etnis tersebut cukup beragam. Selain me-miliki lahan garapan sendiri, warga ma-syarakat juga melakukan pembukaan lahan di dalam kawasan TNK. Populasi warga di Singa Geweh yang memasuki wilayah TNK untuk membuka lahan dan berusahatani sekitar 50 KK yang berasal dari ketiga etnis tersebut di atas. Kelompok besar tersebut terbagi lagi ke dalam sub-sub kelompok yang berang-gotakan rata-rata 10 jiwa. Luas lahan garapan rata-rata di dalam TNK sekitar 2 ha. Tujuan pembukaan lahan selain untuk budidaya tanaman pangan semusim juga untuk budidaya tanaman tahunan seperti karet. Perambahan lahan di dalam kawas-an hutan TNK terjadi sangat ekstensif, bahkan pengalihan lahan garapan sudah banyak terjadi dengan cara diperjual-belikan. Tujuan perambahan lahan di da-lam kawasan hutan TNK selain untuk mendapatkan lahan garapan, juga untuk mendapatkan kayu ulin (terutama suku Dayak yang mengambil ulin baik untuk bahan bangunan ataupun diperjualbeli-kan).Deskripsi umum masyarakat di ka-wasan dan daerah penyangga TNK di-gambarkan oleh identitas responden, se-perti disajikan pada Tabel 1.
Masyarakat etnis Jawa yang merupa-kan pendatang ke daerah Sangata sebagi-an besar adalah transmigran atau pekerja di industri perkayuan seperti HPH atau HTI. Sebagai transmigran, masyarakat etnis Jawa yang mereka berusaha di bidang pertanian dan memiliki lahan garapan yang cukup luas sekitar lima ha yang dikelola secara intensif dengan tanaman buah-buahan, perkayuan, sayur-sayuran dan tanaman obat-obatan. Jenis tanaman yang dibudidayakan dengan sis-tem agroforestri tersebut merupakan jenis tanaman yang bernilai ekonomis untuk memenuhi pendapatan rumah tangga se-hari-hari.
Masyarakat etnis Bugis sebagian me-rupakan pendatang, mempunyai mata pencaharian sebagai pemasok bahan ba-ngunan berupa pasir dan semen dari Sulawesi dengan menggunakan angkutan kapal laut. Disamping itu ada juga yang mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan yang bertempat tinggal di daerah pantai dengan jumlah anggota keluarga relatif sedikit (rata-rata tiga jiwa).
Sedangkan masyarakat lokal seperti etnis Dayak dan Kutai, rata-rata mereka memiliki kebun seluas 4-5 ha, namun tidak diusahakan secara intensif. Hal ini terlihat dari jenis tanaman yang dibudidayakan, yaitu tanaman kayu-kayuan dan buah-buahan seperti durian (Durio zibethinus Lamk), rambutan (Nephelium lappaceum L.), jeruk (Citrus sp.), duku (Lansium domesticum Corr.), pisang (Musa sp.), kwanyi (Mangifera spp.), manggis hutan (Garcinia celebica Linn.) serta tanaman industri karet (Hevea brasiliensis Muell.Arg.).Secara umum, interaksi antara masya-rakat dengan hutan dan sekitarnya di ka-wasan dan daerah penyanggga TN Kutai serta pola usahataninya tercantum pada Lampiran 1.Interaksi masyarakat etnis Jawa de-ngan lingkungan biofisik yang ada di se-kitarnya cukup erat, hal ini terlihat dari pembukaan lahan garapan, intensitas sis-tem budidaya tanaman, jenis tanaman, dan pola tanam yang diterapkan di ka-wasan dan daerah penyangga TNK. Di-samping untuk mendapatkan lahan garap-an, masyarakat juga memanfaatkan jenis pohon yang ditemukan di kawasan untuk bahan bangunan, kapal dan kayu bakar. Jenis jamur dan beberapa jenis satwaliar seperi babi hutan dimanfaatkan untuk dikonsumsi. Babi butan selain dikonsum-si juga digunakan untuk sesajen. Etnis Kutai dan Bugis memiliki bebe-rapa persamaan dalam melaksanakan ke-giatan usahataninya, namun dalam peme-liharaan tanaman etnis Bugis lebih intensif.
B.  Potensi Pemanfaatan Sumberdaya Alam
Potensi sumberdaya alam yang ada di kawasan dan daerah penyawngga TNK cu-kup besar. Masyarakat umumnya sudah memanfaatkan berbagai jenis tanaman lo-kal yang terdapat di sekitar tempat ting-gal baik untuk pemenuhan kebutuhan sendiri (subsisten) maupun untuk diperju-albelikan (Tabel 2). Jenis tanaman lokal tersebut umumnya sebagai penghasil bu-ah dan kayu untuk bahan bangunan. Di-samping itu, masyarakat juga memanfaatkan keanekaragaman hayati satwaliar


yang termasuk jenis ikan, burung dan ma-malia (Lampiran 1 dan Lampiran 2). Pohon buahbuahan lokal tersebut dipanen dari hutan, dikelola dalam hutan atau se-tengah dibudidayakan di pekarangan atau di kebun rakyat. Keanekaragaman jenis



Tabel (Table) 1. Identitas responden berbagai etnis di daerah penyangga TNK (Respondent identity of different ethnic groups in TN Kutai buffer zone)


Kriteria (Criteria)
Pendatang (New inhabitant)

Penduduk Lokal (Local



community)










Asal etnis (Etnic)
Jawa, Bugis
Dayak, Kutai

Umur rata-rata (Average age)
35-40 tahun
40-50 tahun

∑ anggota keluarga (Number of family
4-5 orang
4-8 orang



member)













Mata pencaharian (Livelihood)






1) Utama (Main)
Petani (farmer)
-
Buruh/labour KPC,



-
PNS/goverment official,



-
usaha kapal ponton/




shipman.



2) Sampingan (Secondary )
Berdagang sayur²an (sale
Petani/farmer


vegetables)












Pemilikan lahan (Land holding)
- Pekarangan (homeyard):





1) Lahan garapan di areal trans
420 m2



(Cultivated land on transmigration
0,25 ha





land)
- Kebun I : 0,75 ha






- Kebun II : 1 ha





2) Lahan garapan (milik sendiri)(Private
0,90-1 ha
3 ha



owned cultivated land)






3) Lahan garapan (pinjam) (Cultivated
1 ha





rent land)






4) Lahan garapan (dalam TNK)
1 ha
2-5 ha



(Cultivated land inside National Park






Kutai)






Jenis tanaman yang dibudidayakan






(Cultivated crop species):






1) Lahan Trans (Transmigration area)
- Kebun buah-buahan dan
- Kebun buah-buahan dan


perkayuan (woody and fruit

perkayuan
(woody and


crop plantation)

fruit crop plantation)


- Budidaya sayur-sayuran
- Tanaman pangan semusim,


(vegetable crop cultivation)

kebun buah-buahan dan




karet (seasonal food crop,




fruit and rubber

2) Lahan milik (Private owned land)
- Budidaya tanaman buah-

plantation)







buahan (fruit crop






cultivation)






- Budidaya tanaman obat






(medicinal plant






cultivation)





Penggunaan saprotan (use of
Urea, TSP, KCl dan pupuk
Urea  dan
pupuk  kandang

production input)
organik/kompos (Urea, TSP,
(urea and dung)


KCL and organic fertilizer/






green manure)





Rata-rata pengeluaran (average
Rp 50.000 - 60.000/hari
Rp. 75.000 - 100.000

expenditure):
(kebutuhan beras rata² 0,25






kg/kapita/hari) (daily rice






necessity 0.25 kg/capita)











Sumber: Analisis data primer















Tabel (Table) 2. Jenis tanaman yang berpotensi untuk dikembangkan (Potencial plant species for development)




Nama Lokal (Local Name)
Nama Latin (Scientific Name)
Keterangan (Remarks)

Krantungan
Durio oxleyanus Griff.
Buah (durian)

Kasturi
Mangifera casturi Griff.
Buah (mangga)

Tarum
Crotalaria sp.
Buah – untuk pewarna

Keledang
Artocarpus lanceifolius Roxb.
Buah

Ciu/mundar (manggis hutan)
Garcinia celebica Linn.
Buah

Maritam
Nephelium juglandifolium Linn.
Buah

Durian Lai
Durio spp.
Buah

Ramania
Nephelium spp.
Buah



Tabel (Table) 3. Jenis burung yang dikonsumsi dan diperjualbelikan (Bird species for consumption and sale)




Nama lokal (Local name)
Nama Latin (Scientific name)
Harga/ind. (Price/ ind.) (Rp)

Rangkong
Rhinoplas vigil Forster
-

Punai/Delimukn
Chalcophaps indica L.
5.000,-

Kacer
Hemipus hirundinaceus Temminck
400.000,-

Beo
Gracula religiosa L.
100.000,-

Betet
Loriculus galgulus L.
15.000,-


























Gambar (Figure)

1. Nipah (Nypa fruticans),sumber penda-patan tambahan masyarakat etnis Bugis (Nipah as secondary source of income for Bugis etnic)



tanaman buah-buahan di Kalimantan cu-kup tinggi dan beberapa diantaranya ter-masuk endemik yaitu 24 jenis mangga liar seperti kasturi (Mangifera casturi Griff.) dan 16 jenis rambutan (Nephelium sp.) dan durian (Durio sp.) (Michon, 2005).

Penangkapan ikan dilakukan dengan cara memancing, menjaring, meracun maupun menyetrum. Cara memancing se-cara tradisional, untuk ikan-ikan kecil se-perti ikan seluang (Rasbora spp.) meng-gunakan umpan kail dari daging buah kelapa, sedangkan untuk jenis ikan lain-nya digunakan umpan seperti ulat bambu, usus ayam dan ikan-ikan kecil. Jumlah orang yang memancing di Sungai Sa-ngata adalah sebanyak 10 orang/hari/ du-sun dengan hasil rata-rata 3-5 kg/orang. Hasil tangkapan ikan tersebut umumnya dijual atau dikonsumsi sendiri.Selain memanfaatkan berbagai jenis tanaman yang ada di sekitarnya dan ikan yang ada di sungai tersebut, masyarakat juga memanfaatkan berbagai jenis burung baik untuk keperluan upacara adat, di-konsumsi sendiri maupun diperjual-belikan (Tabel 3).

Kegiatan pengambilan satwa liar dila-kukan dalam rangka memenuhi kebutuh-an protein, perdagangan, pemeliharaan dan adat istiadat seperti burung rangkong. Satwa diperoleh dengan cara menjerat, menjaring, berburu/menangkap dan mem-beli.Selain yang telah diuraikan di atas, ada satu tanaman yang juga banyak diman-faatkan oleh masyarakat di daerah ini ya-itu nipah (Nypa fruticans Wurmb.). Po-tensi tumbuhan nipah yang terdapat di daerah pesisir Sungai Sangata digunakan untuk membuat atap maupun tikar, seba-gai usaha sampingan untuk menambah pendapatan masyarakat (Gambar 1).Pola Usahatani Kebun Rakyat Me-nurut Etnis di Daerah Penyangga TN Kutai

Pola usahatani di kebun yang dibe-bani hak milik dan dikembangkan oleh masyarakat sangat beragam sesuai de-ngan tipologi masyarakat pelakunya. Et-nis Jawa umumnya lebih menitikberatkan pada sistem usahatani secara intensif de-ngan budidaya berbagai jenis tanaman pangan semusim dan sayur-sayuran. Se-mentara pada etnis pendatang, selain me-nitikberatkan pada budidaya tanaman se-musim, lebih menitikberatkan pada pe-ngembangan tanaman serbaguna dan tanaman tahunan lainnya. Pola usahatani di kebun milik pada beberapa kelompok et-nis di daerah penyangga TNK adalah se-bagai berikut:

1.  Pola Kebun Rakyat Etnis Jawa

Pola usaha tani di kebun milik masya-rakat pendatang yang berasal dari Jawa umumnya didominasi oleh berbagai jenis.








































Gambar (Figure)

2. Pola usahatani di kebun milik pada etnis Jawa (Farming pattern of private land of Java ethnic community)



tanaman pangan semusim seperti jagung (Zea mays Linn.), singkong (Manihot uti-lissima Pohl.), sayur-sayuran serta berba-gai jenis tanaman serbaguna dan tanaman buah-buahan juga tanaman penghasil mi-nyak atsiri seperti nilam (Pogostemon cablin). Deskripsi pola usaha tani pada masyarakat Jawa dapat dilihat pada Gam-bar 2.

2.  Pola Kebun Rakyat Etnis Kutai

Pola usahatani kebun rakyat yang umumnya dikembangkan di kebun rakyat oleh etnis Kutai adalah kombinasi antara berbagai tanaman pangan semusim se-perti singkong, sayur-sayuran, tanaman serbaguna serta buah-buahan. Gambaran pola usahatani di kebun milik pada etnis Kutai dapat dilihat pada Gambar 3.

Interaksi masyarakat Kutai dengan lingkungan biofisik yang ada di sekitar-nya sangat erat. Berbagai jenis tanaman dimanfaatkan baik sebagai tanaman obat, pewarna alami maupun yang dikonsumsi langsung (buah-buahan).















 





































Gambar (Figure)

3. Pola usahatani di kebun milik pada etnis Kutai (Farming pattern of private land of Kutai ethnic community

3.  Pola Kebun Rakyat Etnis Bugis

Jika dibandingkan dengan etnis Kutai dan etnis Jawa, pola usahatani kebun rakyat pada etnis Bugis kurang begitu beragam. Jenis tanaman yang ditemukan didominasi oleh tanaman pangan semu-sim seperti jagung dan beberapa jenis ta-naman buah-buahan seperti nangka (Arto-carpus integra Merr.), rambutan (Nephe-lium lappaceum Linn.) dan kelapa (Cocos nucifera Linn.). Deskripsi pola usahatani di kebun milik pada etnis Bugis dapat di-lihat pada Gambar 4.

D. Interaksi Masyarakat dengan TN Kutai

Lokasi TNK yang berbatasan lang-sung dengan tempat pemukiman masya-rakat, aksesibilitas cukup tinggi. Di lain pihak, kebutuhan akan lahan garapan sa-ngat tinggi terutama bagi pendatang telah menyebabkan interaksi masyarakat de-ngan hutan menjadi sangat intensif. Ting-ginya interaksi ini telah mendorong ter-jadinya perambahan hutan secara eksten-sif di dalam TNK. Luas perambahan saat ini adalah 52.549 ha (TN Kutai, 2008). Kegiatan perambahan di dalam kawasan TNK adalah bercocok tanam tanaman pa-ngan semusim serta berbagai jenis tanam-an keras seperti karet, coklat, kopi dan kelapa.




















































Gambar (Figure)

 4. Pola Usahatani di Kebun Milik pada Etnis Bugis (Farming pattern of private land of Bugis ethnic community)







Di dalam kawasan TNK sudah ba-nyak terjadi perambahan hutan yang dila-kukan oleh masyarakat sekitar TNK dari berbagai etnis baik pendatang dari luar (Bugis, Jawa) maupun penduduk lokal dari etnis Dayak dan Kutai (Gambar 5).

 







































Gambar (Figure) 5. Areal perambahan dalam kawasan TNK (Encroachment areas in Kutai National Park)

Sejak tahun 2000-an, perambahan yang dilakukan oleh keempat etnis tersebut se-makin marak. Walaupun sebetulnya, pola usahatani masyarakat lokal ini berbeda dengan pendatang yang berusahatani se-cara intensif. Masyarakat Kutai sebagai contohnya, budaya usahatani mereka ada-lah berladang di kanan kiri sungai, se-lebar 200 m. Begitu pula motivasi peram-bahan kawasan TNK sangat bervariasi. Ada yang semata-mata untuk mendapat-kan tambahan lahan garapan untuk budi-daya tanaman pangan semusim dan ta-naman tahunan jangka panjang seperti karet dan kelapa sawit, namun ada juga yang mempunyai tujuan lain seperti pe-nguasaan dan jual beli lahan. Hasil pene-litian tentang pola perambahan dan perla-dangan yang terjadi di kawasan TNK yang dilakukan Subandi (1998) menye-butkan bahwa ditemukan tiga pola perla-dangan yaitu pola asli, pola adaptasi dan pola komplikasi.



Untuk mengatasi masalah perambah-an ini, pihak pengelola TNK sebetulnya sudah mengusulkan untuk menetapkan daerah enclave seluas ± 24.000 ha. Na-mun sampai saat ini, areal yang di enclave ini baru sampai pada tahap penunjukan. Di sisi lain, nampaknya pi-hak Pemerintah Daerah (Pemda) juga ku-rang memperhatikan masalah perambah-an dalam kawasan TNK. Hal ini terlihat dengan ditetapkannya dua kecamatan ya-itu Kecamatan Teluk Pandan dan Keca-matan Sangata Selatan serta empat desa definitif, antara lain Sangata Selatan, Si-ngadewe, Sangkima, dan Teluk Pandan oleh Pemda Kutai secara legal formal da-lam rangka otonomi daerah. Saat ini Pemda Kutai berencana akan membangun terminal bis di dalam kawasan TNK. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman terha-dap kelestarian kawasan TNK belum se-penuhnya dirasakan oleh Pemda setempat (Sinar Harapan, 2003).

Jika dilihat dari aspek konservasi, pe-nunjukkan kawasan yang dirambah seba-gai daerah enclave sebetulnya akan memberikan dampak negatif, karena kawasan yang lainnya akan mencontoh pola pe-rambahan yang demikian, disamping juga perubahan fungsi kawasan menjadi enclave akan mengurangi luas kawasan TNK. Usulan lainnya bagi kawasan yang dirambah adalah pengelolaan zona khu-sus berdasarkan hasil rapat Kemitraan TNK yang mengarah pada pemanfaatan tradisional. Dengan demikian memung-kinkan pengelolaannya di bawah penga-wasan pengelola TNK, sehingga diharap-kan fungsi kawasan ini dapat kembali se-perti semula melalui kegiatan restorasi dan pengelolaan zonasi secara bertahap dari zona pemanfaatan tradisional ke zo-na restorasi.





IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini, tipo-logi masyarakat berpengaruh terhadap keterkaitannnya di kawasan dan daerah penyangga TNK baik dari segi pengelo-laan lahan, pemanfaatan potensi sumber-daya alam, pola usaha tani di lahan ga-rapan dan interaksi dengan hutan, hal ini dapat dilihat bahwa:



1.                  Pendapatan masyarakat pendatang, et-nis Jawa dan Bugis (Rp. 50.000 - 60.000) lebih kecil dibandingkan ma-syarakat lokal, etnis Dayak dan Kutai (Rp. 75.000 - 100.000) karena perbe-daan luas lahan garapan dan jenis ta-naman.



2.                  Sumberdaya alam yang meliputi jenis tumbuhan buah-buahan lokal/endemik, ikan, burung dan mamalia dari kawas-an dan budidaya di daerah penyangga TNK bernilai ekonomi dan dimanfa-atkan oleh masyarakat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sendiri (subsis-ten) maupun diperjual belikan.



3.                  Pola usaha tani untuk masing-masing etnis memiliki keragaman jenis tanam-an yang berbeda, sesuai dengan kebtuhan sosial ekonomi dan budaya ma-syarakat Jawa, Kutai dan Bugis.



4.                  Interaksi masyarakat ke dalam kawas-an TNK dilakukan dengan berbagai alasan terutama untuk memperluas la-han garapan. Masyarakat etnis Jawa dan Bugis (1-2 ha), sedangkan masya-rakat etnis Dayak dan Kutai (2-5 ha) yang ditanami dengan tanaman pa-ngan semusim, tanaman industri dan tanaman pemukiman. Sedangkan bagi pemerintah daerah, untuk memperluas daerah dalam rangka otonomi daerah.

B. Saran

1.                  Permasalahan perambahan hutan di TNK diatasi berdasarkan pada aspek konservasi untuk mengembalikan fungsi kawasan semula dengan penge-lolaan kriteria dan indikator yang dise-pakati antara masyarakat, pengelola, dan mitra TNK. Sebagai contoh adalah tidak memberikan dana/subsidi kepada perambah hutan untuk mengelola ta-nahnya.

2.                  Pelestarian dan pengembangan peman-faatan potensi sumberdaya alam yang termasuk keanekaragaman tumbuhan lokal dan endemik Kalimantan, seperti buah-buahan rambutan, durian, mang-ga dan nangka serta bahan pewarna yang digunakan etnis Dayak, perlu di-sosialisasikan dan dibudidayakan di kebun rakyat baik masyarakat lokal maupun pendatang.















































DAFTAR PUSTAKA



Ambrosium H. 2010. Di TN Kutai diduga ada 2000 orangutan. http://regional.kompas.com/read/2010/ob/08/1654 0584. Diakses l September 2010.

BAPPENAS. 2003. Dokumen regional, Indonesian biodiversity strategy and action plan. CIFOR. Bogor. Hal. 83-100.

Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 2003. 41 Taman nasional di Indonesia. De-partemen Kehutanan, CIFOR dan UNESCO. Jakarta. Hal 105-106.

Michon, G. 2005. Domesticating forest, how farmers manage forest resour-ces. Center for International Fo-restry Research The World Agro-forestry Centre. Subur Printing, Indonesia. Hal. 101-102.

Sinar Harapan. 2003. Nasib taman nasional Kutai masih menggantung. http://www.tnkutai.com/ index.php/en/news/81-nasib-taman-nasional-kutai. Diakses tanggal 1 April 2010. Hal 1-3.

Subandi, 1998. Pola perambahan dan perladangan oleh masyarakat pe-mukim serta kondisi tegakan pasca perambahan dan perladangan tahun 1986 di kawasan TN Kutai. Fakul-tas Kehutanan Universitas Mula-warman.

TN Kutai. 2008. TN Kutai terus dirambah. http://www.tnkutai.com/ index.php/innews/85-taman nasio-nal kutai terus dirambah. Diakses tgl 31 Desember 2009.

Taman Nasional Kutai. 2010. TN Kutai. Lisensi atribusi berbagi creative commons. http://wikipedia.org/wiki /Taman Nasional Kutai. Diakses tgl. 1 September 2010.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

re-introduce

KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN SKALA KECIL_RIMA TAMARA_14120114