Hasil Hutan Non Kayu tentang Lebah Madu_Abdul Rifqi Asfi_141201156
SOSIOLOGI KEHUTANAN
Makalah Hasil Hutan Non Kayu tentang Lebah Madu
DISUSUN OLEH :
NAMA : ABDUL
RIFQI ASFI
NIM : 141201156
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Taman Nasional Kutai yang
ditetap-kan berdasarkan Keputusan Menteri Ke-hutanan No.325/Kpts-II/1995 dengan
lu-as 198.629 ha, memiliki berbagai tipe ve-getasi utama yaitu vegetasi hutan
pantai, hutan mangrove, hutan rawa air tawar, hutan kerangas,
hutan genangan dataran rendah, hutan ulin/meranti/kapur dan hu-tan
Dipterocarpaceae campuran (Direkto-rat Jendral Perlindungan Hutan dan
Kon-servasi Alam, 2003). Disamping itu, di-jumpai keanekaragaman satwa mamalia
seperti beberapa jenis primata yaitu orang utan (Pongo pygmaeus Mario Linnaeus, 1760), owa kalimantan (Hylobates muel-leri Kloss, 1929),
bekantan (Nasalis lar-vatus Wurmb,
1787), kera ekor panjang (Macaca fascicularis Raffles,1823),
be-ruk (Macaca nemestrina
Linnaeus,1766) dan kukang (Nycticebus
coucang bornea-nus Boddaert,1787); jenis ungulata dian-taranya adalah
banteng (Bos javanicus lo-wi Lydekker,1912),
rusa sambar (Cervus unicolor brookii Kerr.,1792),
kijang (Muntiacus muntjak pleiharicus Zumer-nam, 1780) dan kancil (Tragulus javani-cus klossi Osbech,
1765); jenis karnivora seperti
beruang madu (Helarctos Malaya-nus
euryspilus Raffles, 1821 ) dan kucing
kepala datar (Priohailurus planiceps
Vi-gors dan Horsfield,1827) (BAPPENAS, 2003). Namun, sejak tahun 2000-an, taman
nasional ini menghadapi permasalahan seperti kebakaran hutan, pembalakan ille-gal dan perambahan oleh masyarakat yang membuka lahan untuk pemukiman,
perladangan serta prasarana umum (Ta-man Nasional Kutai, 2010). Kerusakan
habitat ini mengakibatkan satwa liar seperti orangutan yang populasinya hanya
tinggal sekitar 2.000 individu, mencari makan ke luar kawasan taman nasional
yaitu ke daerah penyangga seperti kebun rakyat dan hutan tanaman industri (HTI)
PT. Surya Hutani Jaya. Di daerah ini orangutan mencari pakan berupa palawija
serta kulit dan daun muda akasia (Acacia
auriculiformis) (Ambrosium, 2010)
Dampak perambahan hutan
menye-babkan berkurangnya luas kawasan hu-tan, saat ini luas kawasan hutan yang
masih tersisa sekitar 145.000 ha atau 73%, berupa hutan primer, sekunder, rawa,
belukar rawa, mangrove, sedang-kan sisanya 53.629 ha atau 27%, berupa belukar,
semak, alang-alang, tanah terbu-ka, tambak, pertanian campuran, pemuki-man
masyarakat serta sarana dan pra-sarana (Taman Nasional Kutai, 2010).
Pembangunan industri di bidang
per-tambangan batubara, pembuatan pupuk dan pengolahan kayu memacu kedatang-an
masyarakat pendatang ke Kalimantan Timur. Perusahaan-perusahaan tersebut
diantaranya adalah PT. Kaltim Prima Coal, PT. Pupuk Bontang, PT. Pupuk Kaltim,
HTI PT. Surya Hutani Jaya dan HTI PT. Kiani Lestari. Lokasi perusahaan terletak
di perbatasan TNK atau di dae-rah penyangganya. Dengan berjalannya waktu,
banyak pekerja perusahaan yang pada akhirnya mengalami pemutusan hu-bungan
kerja (PHK) seperti yang terjadi pada ex
HTI PT. Kiani Lestari. Sebagai akibatnya, karena keterbatasan pengeta-huan dan
keterampilan yang dimiliki, mereka melakukan pembukaan hutan dan memanfaatkan
sumberdaya alam di TNK untuk membangun rumah dan berladang. Selanjutnya,
masyarakat transmigran atau pendatang dan masyarakat lokal yang mengetahui hal
ini kemudian beranggap-an bahwa perambahan hutan merupakan suatu peluang untuk
memperluas lahan garapan dan meningkatkan pendapatan. Penelitian ini bertujuan
untuk memper-oleh informasi tentang kondisi interaksi masyarakat di dalam
kawasan maupun daerah penyangga TNK, melalui wawan-cara dengan responden
sebanyak 33 KK (Kepala Keluarga) yang dipilih secara purposive. Selanjutnya
penelitian ini juga mencoba, memberikan beberapa alternatif solusi dari
permasalahan perambahan hu-tan yang terjadi dalam bentuk interaksi masyarakat
dengan kawasan untuk men-dukung pengelolaan kawasan yang lesta-ri. Diharapkan
hasil penelitian ini ber-manfaat bagi beberapa pihak yang terkait dan turut
menangani permasalahan ekolo-gi dan sosial ekonomi di daerah penyang-ga Taman
Nasional Kutai, sehingga ke-lestarian taman nasional ini dapat diperta-hankan.
II. BAHAN
DAN METODE
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Pengamatan lapangan dilakukan
pada bulan Maret tahun 2009, bertempat di da-erah penyangga dan di dalam
kawasan TNK dimana masyarakatnya merupakan masyarakat campuran, yaitu lokal dan
pendatang dari berbagai etnis seperti Kutai, Dayak, Banjar, Bugis, Tator dan
Jawa. Masyarakat yang tinggal di daerah penyangga adalah penduduk Desa Singa
Geweh. Sedangkan, masyarakat yang langsung berkaitan dengan TNK dengan
melakukan perambahan hutan dan pe-manfaatan sumberdaya alam berupa potensi
biologi dan ekologi adalah etnis Kutai, Da-yak, Jawa dan Bugis.
B. Bahan dan Alat Penelitian
Bahan yang digunakan dalam
peneli-tian ini adalah peta kerja kawasan TNK (1:250.000) untuk mengetahui
kawasan yang dirambah, buku identifikasi burung dan ikan, serta kuesioner,
sedangkan per-alatannya adalah kamera, binokuler, alat ukur tinggi pohon dan
pita diameter.
C.Metode Penelitian
1. Prosedur Kerja
Data yang dikumpulkan meliputi
ti-pologi masyarakat, sosial ekonomi, teknis pengelolaan lahan dan pemanfaatan
sum-berdaya alam oleh masyarakat. Hal ini di-lakukan melalui wawancara dengan
res-ponden yang dipilih dan dianggap dapat mewakili, serta menggunakan
kuesioner yang telah disiapkan sebelumnya. Data sekunder berasal dari monografi
desa dan studi pustaka. Jumlah responden untuk tiap etnis tergantung pada
jumlah KK yang ada serta tingkat keterkaitannya de-ngan pemanfaatan sumberdaya
alam. Responden di masing-masing etnis rata-rata 25-30% adalah sebagai berikut:
etnis Kutai (10 KK dari 30 KK), etnis Dayak (5 KK dari 20 KK), etnis Jawa ( 8
KK dari 22KK) dan etnis Bugis (10 KK dari 35 KK).
2. Analisis
Data
Data dan informasi dikompilasi da-lam
bentuk tabel yang dianalisis secara deskriptif dan evaluatif yang meliputi
ti-pologi masyarakat di daerah penyangga dan di dalam kawasan TNK, potensi dan
pemanfaatan sumberdaya alam oleh ma-syarakat lokal dan pendatang serta pola
usahatani kebun rakyat pada berbagai etnis di daerah penyangga TNK. Disam-ping
itu dicoba dirumuskan beberapa al-ternatif solusi dari permasalahan peram-bahan
hutan untuk mendukung pengelo-laan kawasan yang lestari. Identifikasi je-nis
tumbuhan dilakukan di laboratorium herbarium Pusat Litbang Konservasi dan
Rehabilitasi.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Tipologi Masyarakat di
Kawasan dan Daerah Penyangga TN Kutai
Masyarakat yang ada di daerah pe-nyangga dan di dalam kawasan TNK ber-asal
dari berbagai etnis seperti Kutai, Da-yak, Banjar, Bugis, Tator dan
Jawa.Kam-pung Jawa merupakan wilayah dimana masyarakat yang berasal dari etnis
Jawa bertempat tinggal dengan jumlah pendu-duk sebanyak 22 KK. Mayoritas
pendu-duk kampung Jawa adalah peserta trans-migran yang datang ke Provinsi
Kaliman-tan Timur pada tahun 1992. Sementara itu, penduduk Desa Singa Geweh
berasal dari beberapa etnis yang berbeda yaitu Kutai, Dayak dan Banjar. Pola
interaksi dengan lingkungan setempat serta pola usahatani yang dikembangkan oleh
ketiga etnis tersebut cukup beragam. Selain me-miliki lahan garapan sendiri,
warga ma-syarakat juga melakukan pembukaan lahan di dalam kawasan TNK. Populasi
warga di Singa Geweh yang memasuki wilayah TNK untuk membuka lahan dan
berusahatani sekitar 50 KK yang berasal dari ketiga etnis tersebut di atas. Kelompok
besar tersebut terbagi lagi ke dalam sub-sub kelompok yang berang-gotakan rata-rata
10 jiwa. Luas lahan garapan rata-rata di dalam TNK sekitar 2
ha. Tujuan pembukaan lahan selain untuk budidaya tanaman pangan semusim juga
untuk budidaya tanaman tahunan seperti karet. Perambahan lahan di dalam
kawas-an hutan TNK terjadi sangat ekstensif, bahkan pengalihan lahan garapan
sudah banyak terjadi dengan cara diperjual-belikan. Tujuan perambahan lahan di
da-lam kawasan hutan TNK selain untuk mendapatkan lahan garapan, juga untuk
mendapatkan kayu ulin (terutama suku Dayak yang mengambil ulin baik untuk bahan
bangunan ataupun diperjualbeli-kan).Deskripsi umum masyarakat di ka-wasan dan
daerah penyangga TNK di-gambarkan oleh identitas responden, se-perti disajikan
pada Tabel 1.
Masyarakat
etnis Jawa yang merupa-kan pendatang ke daerah Sangata sebagi-an besar adalah
transmigran atau pekerja di industri perkayuan seperti HPH atau HTI. Sebagai
transmigran, masyarakat etnis Jawa yang mereka berusaha di bidang pertanian dan
memiliki lahan garapan yang cukup luas sekitar lima ha yang dikelola secara
intensif dengan tanaman buah-buahan, perkayuan, sayur-sayuran dan tanaman
obat-obatan. Jenis tanaman yang dibudidayakan dengan sis-tem agroforestri
tersebut merupakan jenis tanaman yang bernilai ekonomis untuk memenuhi
pendapatan rumah tangga se-hari-hari.
Masyarakat
etnis Bugis sebagian me-rupakan pendatang, mempunyai mata pencaharian sebagai
pemasok bahan ba-ngunan berupa pasir dan semen dari Sulawesi dengan menggunakan
angkutan kapal laut. Disamping itu ada juga yang mempunyai mata pencaharian
sebagai nelayan yang bertempat tinggal di daerah pantai dengan jumlah anggota
keluarga relatif sedikit (rata-rata tiga jiwa).
Sedangkan
masyarakat lokal seperti etnis Dayak dan Kutai, rata-rata mereka memiliki kebun
seluas 4-5 ha, namun tidak diusahakan secara intensif. Hal ini terlihat dari
jenis tanaman yang dibudidayakan, yaitu tanaman kayu-kayuan dan buah-buahan
seperti durian (Durio zibethinus Lamk), rambutan (Nephelium lappaceum L.), jeruk (Citrus sp.), duku (Lansium domesticum Corr.), pisang (Musa sp.), kwanyi (Mangifera spp.), manggis hutan (Garcinia
celebica Linn.) serta tanaman industri karet (Hevea brasiliensis Muell.Arg.).Secara umum, interaksi antara
masya-rakat dengan hutan dan sekitarnya di ka-wasan dan daerah penyanggga TN
Kutai serta pola usahataninya tercantum pada Lampiran 1.Interaksi masyarakat
etnis Jawa de-ngan lingkungan biofisik yang ada di se-kitarnya cukup erat, hal
ini terlihat dari pembukaan lahan garapan, intensitas sis-tem budidaya tanaman,
jenis tanaman, dan pola tanam yang diterapkan di ka-wasan dan daerah penyangga
TNK. Di-samping untuk mendapatkan lahan garap-an, masyarakat juga memanfaatkan
jenis pohon yang ditemukan di kawasan untuk bahan bangunan, kapal dan kayu
bakar. Jenis jamur dan beberapa jenis satwaliar seperi babi hutan dimanfaatkan
untuk dikonsumsi. Babi butan selain dikonsum-si juga digunakan untuk sesajen. Etnis
Kutai dan Bugis memiliki bebe-rapa persamaan dalam melaksanakan ke-giatan
usahataninya, namun dalam peme-liharaan tanaman etnis Bugis lebih intensif.
B. Potensi Pemanfaatan Sumberdaya Alam
Potensi sumberdaya alam yang ada di kawasan dan daerah penyawngga TNK
cu-kup besar. Masyarakat umumnya sudah memanfaatkan berbagai jenis tanaman
lo-kal yang terdapat di sekitar tempat ting-gal baik untuk pemenuhan kebutuhan
sendiri (subsisten) maupun untuk diperju-albelikan (Tabel 2). Jenis tanaman
lokal tersebut umumnya sebagai penghasil bu-ah dan kayu untuk bahan bangunan.
Di-samping itu, masyarakat juga memanfaatkan keanekaragaman hayati satwaliar
Tabel (Table) 1. Identitas responden berbagai etnis di daerah penyangga
TNK (Respondent identity of different ethnic groups in TN Kutai buffer
zone)
|
|
Kriteria (Criteria)
|
Pendatang (New inhabitant)
|
|
Penduduk Lokal (Local
|
|
|
|
|
|
community)
|
||||
|
|
|
|
|
|||
|
|
|
|
|
|
||
|
|
Asal etnis (Etnic)
|
Jawa, Bugis
|
Dayak, Kutai
|
|||
|
|
Umur rata-rata (Average age)
|
35-40 tahun
|
40-50 tahun
|
|||
|
|
∑ anggota keluarga (Number of family
|
4-5 orang
|
4-8 orang
|
|
|
|
|
|
member)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Mata pencaharian (Livelihood)
|
|
|
|
|
|
|
|
1) Utama (Main)
|
Petani (farmer)
|
-
|
Buruh/labour KPC,
|
||
|
|
|
|
-
|
PNS/goverment official,
|
||
|
|
|
|
-
|
usaha kapal ponton/
|
||
|
|
|
|
|
shipman.
|
|
|
|
|
2) Sampingan (Secondary )
|
Berdagang sayur²an (sale
|
Petani/farmer
|
|||
|
|
|
vegetables)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pemilikan lahan (Land holding)
|
- Pekarangan (homeyard):
|
|
|
|
|
|
|
1) Lahan garapan di areal trans
|
420 m2
|
|
|
||
|
|
(Cultivated land on transmigration
|
0,25 ha
|
|
|
|
|
|
|
land)
|
- Kebun I : 0,75 ha
|
|
|
|
|
|
|
|
- Kebun II : 1 ha
|
|
|
|
|
|
|
2) Lahan garapan (milik
sendiri)(Private
|
0,90-1 ha
|
3 ha
|
|
|
|
|
|
owned
cultivated land)
|
|
|
|
|
|
|
|
3) Lahan garapan (pinjam) (Cultivated
|
1 ha
|
|
|
|
|
|
|
rent
land)
|
|
|
|
|
|
|
|
4) Lahan garapan (dalam TNK)
|
1 ha
|
2-5 ha
|
|
|
|
|
|
(Cultivated land inside National Park
|
|
|
|
|
|
|
|
Kutai)
|
|
|
|
|
|
|
|
Jenis tanaman yang
dibudidayakan
|
|
|
|
|
|
|
|
(Cultivated
crop species):
|
|
|
|
|
|
|
|
1) Lahan Trans (Transmigration area)
|
- Kebun buah-buahan dan
|
- Kebun buah-buahan dan
|
|||
|
|
|
perkayuan (woody and fruit
|
|
perkayuan
|
(woody and
|
|
|
|
|
crop
plantation)
|
|
fruit
crop plantation)
|
||
|
|
|
- Budidaya sayur-sayuran
|
- Tanaman pangan semusim,
|
|||
|
|
|
(vegetable crop cultivation)
|
|
kebun buah-buahan dan
|
||
|
|
|
|
|
karet (seasonal food crop,
|
||
|
|
|
|
|
fruit
and rubber
|
||
|
|
2) Lahan milik (Private owned land)
|
- Budidaya tanaman buah-
|
|
plantation)
|
||
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
buahan (fruit crop
|
|
|
|
|
|
|
|
cultivation)
|
|
|
|
|
|
|
|
- Budidaya tanaman obat
|
|
|
|
|
|
|
|
(medicinal plant
|
|
|
|
|
|
|
|
cultivation)
|
|
|
|
|
|
|
Penggunaan saprotan (use of
|
Urea, TSP, KCl dan pupuk
|
Urea dan
|
pupuk kandang
|
||
|
|
production
input)
|
organik/kompos (Urea, TSP,
|
(urea and dung)
|
|||
|
|
|
KCL
and organic fertilizer/
|
|
|
|
|
|
|
|
green
manure)
|
|
|
|
|
|
|
Rata-rata pengeluaran (average
|
Rp 50.000 - 60.000/hari
|
Rp. 75.000 - 100.000
|
|||
|
|
expenditure):
|
(kebutuhan beras rata² 0,25
|
|
|
|
|
|
|
|
kg/kapita/hari) (daily rice
|
|
|
|
|
|
|
|
necessity
0.25 kg/capita)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Sumber: Analisis data primer
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
||
Tabel (Table) 2. Jenis tanaman yang berpotensi untuk dikembangkan (Potencial plant species for development)
|
|
Nama Lokal (Local Name)
|
Nama Latin (Scientific Name)
|
Keterangan (Remarks)
|
|
|
Krantungan
|
Durio oxleyanus Griff.
|
Buah (durian)
|
|
|
Kasturi
|
Mangifera
casturi Griff.
|
Buah (mangga)
|
|
|
Tarum
|
Crotalaria
sp.
|
Buah – untuk pewarna
|
|
|
Keledang
|
Artocarpus
lanceifolius Roxb.
|
Buah
|
|
|
Ciu/mundar (manggis hutan)
|
Garcinia celebica Linn.
|
Buah
|
|
|
Maritam
|
Nephelium
juglandifolium Linn.
|
Buah
|
|
|
Durian Lai
|
Durio
spp.
|
Buah
|
|
|
Ramania
|
Nephelium
spp.
|
Buah
|
Tabel (Table) 3. Jenis burung yang dikonsumsi dan diperjualbelikan (Bird species for consumption and sale)
|
|
Nama lokal (Local name)
|
Nama Latin (Scientific name)
|
Harga/ind. (Price/ ind.) (Rp)
|
|
|
Rangkong
|
Rhinoplas vigil Forster
|
-
|
|
|
Punai/Delimukn
|
Chalcophaps
indica L.
|
5.000,-
|
|
|
Kacer
|
Hemipus
hirundinaceus Temminck
|
400.000,-
|
|
|
Beo
|
Gracula
religiosa L.
|
100.000,-
|
|
|
Betet
|
Loriculus
galgulus L.
|
15.000,-
|

Gambar
(Figure)
1. Nipah
(Nypa fruticans),sumber penda-patan
tambahan masyarakat etnis Bugis (Nipah as
secondary source of income for Bugis
etnic)
tanaman buah-buahan di Kalimantan cu-kup tinggi dan beberapa diantaranya
ter-masuk endemik yaitu 24 jenis mangga liar seperti kasturi (Mangifera casturi Griff.) dan 16 jenis
rambutan (Nephelium sp.) dan durian (Durio sp.) (Michon, 2005).
Penangkapan ikan dilakukan dengan
cara memancing, menjaring, meracun maupun menyetrum. Cara memancing se-cara
tradisional, untuk ikan-ikan kecil se-perti ikan seluang (Rasbora spp.) meng-gunakan umpan kail dari daging buah kelapa,
sedangkan untuk jenis ikan lain-nya digunakan umpan seperti ulat bambu, usus
ayam dan ikan-ikan kecil. Jumlah orang yang memancing di Sungai Sa-ngata adalah
sebanyak 10 orang/hari/ du-sun dengan hasil rata-rata 3-5 kg/orang. Hasil
tangkapan ikan tersebut umumnya dijual atau dikonsumsi sendiri.Selain
memanfaatkan berbagai jenis tanaman yang ada di sekitarnya dan ikan yang ada di
sungai tersebut, masyarakat juga memanfaatkan berbagai jenis burung baik untuk
keperluan upacara adat, di-konsumsi sendiri maupun diperjual-belikan (Tabel 3).
Kegiatan pengambilan satwa liar dila-kukan dalam rangka memenuhi kebutuh-an
protein, perdagangan, pemeliharaan dan adat istiadat seperti burung rangkong.
Satwa diperoleh dengan cara menjerat, menjaring, berburu/menangkap dan
mem-beli.Selain yang telah diuraikan di atas, ada satu tanaman yang juga banyak
diman-faatkan oleh masyarakat di daerah ini ya-itu nipah (Nypa fruticans Wurmb.). Po-tensi tumbuhan nipah yang terdapat di
daerah pesisir Sungai Sangata digunakan untuk membuat atap maupun tikar,
seba-gai usaha sampingan untuk menambah pendapatan masyarakat (Gambar 1).Pola
Usahatani Kebun Rakyat Me-nurut Etnis di Daerah Penyangga TN Kutai
Pola usahatani di kebun yang
dibe-bani hak milik dan dikembangkan oleh masyarakat sangat beragam sesuai
de-ngan tipologi masyarakat pelakunya. Et-nis Jawa umumnya lebih
menitikberatkan pada sistem usahatani secara intensif de-ngan budidaya berbagai
jenis tanaman pangan semusim dan sayur-sayuran. Se-mentara pada etnis
pendatang, selain me-nitikberatkan pada budidaya tanaman se-musim, lebih
menitikberatkan pada pe-ngembangan tanaman serbaguna dan tanaman tahunan
lainnya. Pola usahatani di kebun milik pada beberapa kelompok et-nis di daerah
penyangga TNK adalah se-bagai berikut:
1. Pola Kebun Rakyat Etnis Jawa
Pola usaha tani di kebun milik masya-rakat pendatang yang berasal dari Jawa
umumnya didominasi oleh berbagai jenis.

Gambar
(Figure)
2.
Pola usahatani di kebun milik pada etnis Jawa (Farming pattern of private
land of Java ethnic community)
tanaman pangan semusim seperti jagung (Zea
mays Linn.), singkong (Manihot
uti-lissima Pohl.), sayur-sayuran serta berba-gai jenis tanaman serbaguna
dan tanaman buah-buahan juga tanaman penghasil mi-nyak atsiri seperti nilam (Pogostemon cablin). Deskripsi pola usaha tani pada masyarakat Jawa dapat dilihat pada Gam-bar 2.
2. Pola Kebun Rakyat Etnis Kutai
Pola usahatani kebun rakyat yang umumnya dikembangkan di kebun rakyat oleh
etnis Kutai adalah kombinasi antara berbagai tanaman pangan semusim se-perti
singkong, sayur-sayuran, tanaman serbaguna serta buah-buahan. Gambaran pola
usahatani di kebun milik pada etnis Kutai dapat dilihat pada Gambar 3.
Interaksi masyarakat Kutai dengan lingkungan biofisik yang ada di
sekitar-nya sangat erat. Berbagai jenis tanaman dimanfaatkan baik sebagai
tanaman obat, pewarna alami maupun yang dikonsumsi langsung (buah-buahan).

Gambar (Figure)
3. Pola usahatani di kebun milik
pada etnis Kutai (Farming pattern of private land of Kutai ethnic community
3. Pola Kebun Rakyat Etnis Bugis
Jika dibandingkan dengan etnis Kutai dan etnis Jawa, pola usahatani kebun
rakyat pada etnis Bugis kurang begitu beragam. Jenis tanaman yang ditemukan
didominasi oleh tanaman pangan semu-sim seperti jagung dan beberapa jenis
ta-naman buah-buahan seperti nangka (Arto-carpus
integra Merr.), rambutan (Nephe-lium
lappaceum Linn.) dan kelapa (Cocos
nucifera Linn.). Deskripsi pola usahatani di kebun milik pada etnis Bugis dapat di-lihat pada Gambar 4.
D. Interaksi Masyarakat dengan TN Kutai
Lokasi TNK yang berbatasan lang-sung dengan tempat pemukiman masya-rakat,
aksesibilitas cukup tinggi. Di lain pihak, kebutuhan akan lahan garapan sa-ngat
tinggi terutama bagi pendatang telah menyebabkan interaksi masyarakat de-ngan
hutan menjadi sangat intensif. Ting-ginya interaksi ini telah mendorong
ter-jadinya perambahan hutan secara eksten-sif di dalam TNK. Luas perambahan
saat ini adalah 52.549 ha (TN Kutai, 2008). Kegiatan perambahan di dalam
kawasan TNK adalah bercocok tanam tanaman pa-ngan semusim serta berbagai jenis
tanam-an keras seperti karet, coklat, kopi dan kelapa.

Gambar
(Figure)
4. Pola Usahatani di Kebun Milik pada Etnis
Bugis (Farming pattern of private land of
Bugis ethnic community)
Di dalam kawasan TNK sudah ba-nyak terjadi perambahan hutan yang dila-kukan
oleh masyarakat sekitar TNK dari berbagai etnis baik pendatang dari luar
(Bugis, Jawa) maupun penduduk lokal dari etnis Dayak dan Kutai (Gambar 5).

Gambar (Figure) 5. Areal perambahan dalam kawasan TNK (Encroachment areas in Kutai
National Park)
Sejak tahun 2000-an, perambahan
yang dilakukan oleh keempat etnis tersebut se-makin marak. Walaupun sebetulnya,
pola usahatani masyarakat lokal ini berbeda dengan pendatang yang berusahatani
se-cara intensif. Masyarakat Kutai sebagai contohnya, budaya usahatani mereka
ada-lah berladang di kanan kiri sungai, se-lebar 200 m. Begitu pula motivasi
peram-bahan kawasan TNK sangat bervariasi. Ada yang semata-mata untuk
mendapat-kan tambahan lahan garapan untuk budi-daya tanaman pangan semusim dan
ta-naman tahunan jangka panjang seperti karet dan kelapa sawit, namun ada juga
yang mempunyai tujuan lain seperti pe-nguasaan dan jual beli lahan. Hasil
pene-litian tentang pola perambahan dan perla-dangan yang terjadi di kawasan
TNK yang dilakukan Subandi (1998) menye-butkan bahwa ditemukan tiga pola perla-dangan
yaitu pola asli, pola adaptasi dan pola komplikasi.
Untuk mengatasi masalah
perambah-an ini, pihak pengelola TNK sebetulnya sudah mengusulkan untuk
menetapkan daerah enclave seluas ±
24.000 ha. Na-mun sampai saat ini, areal yang di enclave ini baru sampai pada tahap penunjukan. Di sisi lain, nampaknya pi-hak Pemerintah Daerah
(Pemda) juga ku-rang memperhatikan masalah perambah-an dalam kawasan TNK. Hal
ini terlihat dengan ditetapkannya dua kecamatan ya-itu Kecamatan Teluk Pandan
dan Keca-matan Sangata Selatan serta empat desa definitif, antara lain Sangata
Selatan, Si-ngadewe, Sangkima, dan Teluk Pandan oleh Pemda Kutai secara legal
formal da-lam rangka otonomi daerah. Saat ini Pemda Kutai berencana akan
membangun terminal bis di dalam kawasan TNK. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman
terha-dap kelestarian kawasan TNK belum se-penuhnya dirasakan oleh Pemda
setempat (Sinar Harapan, 2003).
Jika dilihat dari aspek konservasi, pe-nunjukkan kawasan yang dirambah
seba-gai daerah enclave sebetulnya
akan memberikan dampak negatif, karena kawasan yang lainnya akan mencontoh pola
pe-rambahan yang demikian, disamping juga perubahan fungsi kawasan menjadi enclave akan mengurangi luas kawasan TNK. Usulan lainnya bagi kawasan yang
dirambah adalah pengelolaan zona khu-sus berdasarkan hasil rapat Kemitraan TNK
yang mengarah pada pemanfaatan tradisional. Dengan demikian memung-kinkan
pengelolaannya di bawah penga-wasan pengelola TNK, sehingga diharap-kan fungsi
kawasan ini dapat kembali se-perti semula melalui kegiatan restorasi dan
pengelolaan zonasi secara bertahap dari zona pemanfaatan tradisional ke zo-na
restorasi.
IV.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini, tipo-logi masyarakat berpengaruh terhadap
keterkaitannnya di kawasan dan daerah penyangga TNK baik dari segi pengelo-laan
lahan, pemanfaatan potensi sumber-daya alam, pola usaha tani di lahan ga-rapan
dan interaksi dengan hutan, hal ini dapat dilihat bahwa:
1.
Pendapatan masyarakat pendatang,
et-nis Jawa dan Bugis (Rp. 50.000 - 60.000) lebih kecil dibandingkan
ma-syarakat lokal, etnis Dayak dan Kutai (Rp. 75.000 - 100.000) karena
perbe-daan luas lahan garapan dan jenis ta-naman.
2.
Sumberdaya alam yang meliputi
jenis tumbuhan buah-buahan lokal/endemik, ikan, burung dan mamalia dari kawas-an
dan budidaya di daerah penyangga TNK bernilai ekonomi dan dimanfa-atkan oleh
masyarakat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sendiri (subsis-ten) maupun
diperjual belikan.
3.
Pola usaha tani untuk
masing-masing etnis memiliki keragaman jenis tanam-an yang berbeda, sesuai
dengan kebtuhan sosial ekonomi dan budaya ma-syarakat Jawa, Kutai dan Bugis.
4.
Interaksi masyarakat ke dalam
kawas-an TNK dilakukan dengan berbagai alasan terutama untuk memperluas la-han
garapan. Masyarakat etnis Jawa dan Bugis (1-2 ha), sedangkan masya-rakat etnis
Dayak dan Kutai (2-5 ha) yang ditanami dengan tanaman pa-ngan semusim, tanaman
industri dan tanaman pemukiman. Sedangkan bagi pemerintah daerah, untuk
memperluas daerah dalam rangka otonomi daerah.
B. Saran
1.
Permasalahan perambahan hutan di
TNK diatasi berdasarkan pada aspek konservasi untuk mengembalikan fungsi
kawasan semula dengan penge-lolaan kriteria dan indikator yang dise-pakati
antara masyarakat, pengelola, dan mitra TNK. Sebagai contoh adalah tidak
memberikan dana/subsidi kepada perambah hutan untuk mengelola ta-nahnya.
2.
Pelestarian dan pengembangan
peman-faatan potensi sumberdaya alam yang termasuk keanekaragaman tumbuhan
lokal dan endemik Kalimantan, seperti buah-buahan rambutan, durian, mang-ga dan
nangka serta bahan pewarna yang digunakan etnis Dayak, perlu di-sosialisasikan
dan dibudidayakan di kebun rakyat baik masyarakat lokal maupun pendatang.
DAFTAR
PUSTAKA
Ambrosium H. 2010. Di TN Kutai diduga ada 2000 orangutan. http://regional.kompas.com/read/2010/ob/08/1654
0584. Diakses l September 2010.
BAPPENAS. 2003. Dokumen regional, Indonesian biodiversity strategy and
action plan. CIFOR. Bogor. Hal. 83-100.
Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 2003. 41 Taman
nasional di Indonesia. De-partemen Kehutanan, CIFOR dan UNESCO. Jakarta. Hal
105-106.
Michon, G. 2005. Domesticating forest, how farmers manage forest
resour-ces. Center for International Fo-restry Research The World Agro-forestry
Centre. Subur Printing, Indonesia. Hal. 101-102.
Sinar Harapan. 2003. Nasib taman nasional Kutai masih menggantung. http://www.tnkutai.com/ index.php/en/news/81-nasib-taman-nasional-kutai.
Diakses tanggal 1 April 2010. Hal 1-3.
Subandi, 1998. Pola perambahan dan perladangan oleh masyarakat pe-mukim
serta kondisi tegakan pasca perambahan dan perladangan tahun 1986 di kawasan TN
Kutai. Fakul-tas Kehutanan Universitas Mula-warman.
TN Kutai. 2008. TN Kutai terus dirambah. http://www.tnkutai.com/
index.php/innews/85-taman nasio-nal kutai
terus dirambah. Diakses tgl 31 Desember 2009.
Taman Nasional Kutai. 2010. TN Kutai. Lisensi atribusi berbagi creative
commons. http://wikipedia.org/wiki /Taman Nasional Kutai. Diakses tgl. 1 September 2010.
Komentar
Posting Komentar