TUGAS RESUME SOSIOLOGI KEHUTNANAN DUA ASPEK PENDEKATAN DALAM EVALUASI HUTAN KEMASYARAKATAN_San'ul Ikhsan_121201010


TUGAS RESUME SOSIOLOGI KEHUTNANAN DUA ASPEK PENDEKATAN DALAM EVALUASI HUTAN KEMASYARAKATAN



Oleh:

SAN’UL IKHSAN

121201010/Manajemen Hutan

















Judul jurnal  : evaluasi pengelolaan hutan kemasyarakatan (hkm)

 pada hutan produksi dan hutan lindung di pulau lombok


judul bahan   : Dua aspek pendekatan dalam melakukakan evaluasi pengelolaan hutan   kemasyarakatan (HKM)

volume          : Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 10 No. 1

tahun             : Naskah masuk 10 Pebruari 2012 Naskah diterima  22 Januari 2013

penulis          : Ryke Nandini

rivewer          : San’ul Ikhsan

link jurnal : https://media.neliti.com/media/publications/28938-ID-evaluasi-pengelolaan-hutan-kemasyarakatan-hkm-pada-hutan-produksi-dan-hutan-lind.pdf



Latar belakang

Hutan adalah salah satu sumber kehidupan bagi manusia baik secara ekonomi maupun lingkungan, peningkatan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi memaksa pemerintah untuk menyiapkan segala macam kebutuhan masyarakat mulai infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja sehingga daerah daerah sekitar hutan mulai berkurang maka dari itu pemerintah mencoba untuk mencari solusi agar pembangunan tetap terkondisi dan tidak merusak lingkungan, hal ini juga telah di sebutkan pada jurnal di atas yaitu, Kebijakan pembangunan kehutanan telah mengalami perkembangan sejalan dengan adanya UU 32/2004 tentang otonomi daerah, yaitu yang semula bersifat sentralistik menjadi bersifat desentralistik. Diharapkan kesejahteraan masyarakat setempat dapat meningkat melalui pemanfaatan sumberdaya hutan secara optimal, adil dan berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian fungsi hutan dan lingkungan hidup.

Hutan Kemasyarakatan (Hkm) merupakan kegiatan yang terbatas dalam pengelolaan nya karena banyak kegiatan Hkm berada pada kawasan hutan lindung yang memang pemanfaatan nya harus terbatas, yang menjadi kendala sering kali kita lihat adalah pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar hutan sangat kecil bahkan untuk tingkat pendidikan nya juga terbilang rendah, maka dari itu perlu di adakan nya evaluasi atau pratinjau dari semua kegiatan hkm yang pernah ada guna untuk mengetahui apa penyebab nya hal ini juga sesuai dengan jurnal yang saya kutip yaitu:

 Salah satu propinsi yang telah melaksanakan HKm adalah Nusa Tenggara Barat (NTB). Beberapa praktek HKm yang ada di NTB antara lain HKm yang dikelola oleh Perum Perhutani sebagai lanjutan kegiatan HTI di Pulau Sumbawa, HKm Dinas Kehutanan Propinsi NTB, HKm Kelompok Mitra Pengaman Hutan (KMPH) Sesaot yang difasilitasi oleh LP3ES NTB, HKm di kawasan hutan Batukliang, Lombok Tengah yang difasilitasi oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Lombok Tengah dan Dinas Kehutanan Propinsi NTB, serta pengembangan Hkm di Propinsi NTB bantuan OECF di Lombok Timur dan Lombok Barat (http://www.dephut.go.id/ ). Pelaksanaan HKm yang telah dilakukan, belum juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan.

Menurut WWF dan ECPE(2005),  DinasKehutanan PropinsiNTB, (2007), di NTB terdapat ± 200.000 – 400.000 masyarakat di sekitar hutan yang masih miskin, atau sekitar 20-40 % penduduk miskin di NTB. Pemanfaatan hutan sebagai HKm yang sebagian besar digunakan untuk kegiatan penanaman dengan sistem tumpang sari belum mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.



Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pengelolaan HKm di hutan produksi dan hutan lindung baik berdasarkan aspek teknis, ekonomi maupun kelembagaan sehingga dapat diketahui faktor pembatas yang menyebabkan belum tercapainya tujuan pelaksanaan HKm.

Dari tujuan peneletian yang di lakukan ini dapat kita ambil beberapa metode yang harus di lakukan dalam lapangan ketika kita ingin melakukan suatu kegiatan menegani evaluasi Hkm. Berikut akan di ulas metode yang digunakan dalam penelitian ini





METODE PENELITIAN

Penelitian ini di lakukan pada tiga lokasi yang menjadi perwakilan dari masing masing kawasan yaitu sebagai perwakilan dari hutan produksi dan perwakilan dari hutan lindung masing masing perwakilan dapat di lihat pada metode di bawah ini selain itu juga ada beberapa metode lain yang di gunakan berupa pengumpulan data dan analisa data.





A.    LOKASI PENELITIAN

Penelitian dilakukan pada tiga lokasi penelitian yang mewakili HKm di Pulau Lombok yaitu HKm Unit Sambelia (Lombok Timur) yang mewakili HKm pada hutan produksi serta HKm Sesaot (Lombok Barat) dan HKm Darussadiqien (Lombok Tengah) yang mewakili HKm pada hutan lindung.



B.     ALAT DAN BAHAN

Bahan yang dibutuhkan dalam penelitian ini antara lain adalah peta-peta (peta topografi, peta tanah, peta geologi), data iklim, data sekunder dari instansi terkait dan kuesioner. Alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain adalah talley sheet, meteran, , kaliper, dan lain-lain.



C.    Teknik Pengumpulan Data

                  Beberapa aspek pendekatan yang perlu di perhatikan dalam pengumpulan data dari penelitian ini ada beberapa aspek yang di gunakan yaitu :

1. Aspek teknik yang meliputi kondisi biofisik tempat tumbuh, kesesuaian jenis pada tapak, potensi tegakan (jenis tanaman, kerapatan), teknik usaha tani (pola tanam, kombinasi tanam), penerapan teknik konservasi (jenis konservasi, teknik pembuatan) dan bebrapa hal yang bersifat langsung pada lapangan.

 2. Aspek ekonomi (potensi ekonomi, teknik pemasaran) dan kelembagaan (profil kelembagaan dan sistem pengelolaan HKm) dilakukan secara acak bertingkat.



D. Metode Penelitian danAnalisis Data

            Setelah selesai melakukan pengumpulan data maka baru bisa masuk ke dalam analisis data biasa nya pada metode ini data data bisa bersumber dari penelitian penelitian yang sudah ada atau data data pemerintah sekitar untuk di kombinasikan dengan data sekarang.

Hal ini juga di lakukan pada penelitian pada jurnal ini Metode yang digunakan pada penelitian ini diadaptasi dari pedoman monitoring dan evaluasi penyelenggaraan HKms eperti yang digunakan di Lampung Barat sesuai SK. Bupati Lampung Barat Nomor 11 Tahun 2004 tentang Panduan Teknis Indikator dan Kriteria Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Program Hutan Kemasyarakatan di Kabupaten Lampung Barat dan di NTB. Data yang terkumpul selanjutnya ditabulasi dan dianalisis untuk mendapatkan ukuran evaluasi yang didasarkan pada a. Sistem skoring, yaitu didasarkan pada bobot masing-masing aspek yang dibagi secara berimbang sesuai jumlah pertanyaan dalam kuesioner. Nilai skor masing-masing aspek

b. Perhitungan sederhana pendapatan petani, yaitu menghitung pemasukan dari usaha tani di kurangi dengan pengeluaran

c. Penilaian kondisi HKm sesuai aspek pengelolaan sesuai kelasnya didasarkan pada hasil perhitungan skor total.

            Ini adalah beberapa contoh dalam menghitung atau memberi score terhadap lahan yang di evaluasi Hasil evaluasi terhadap 25 sampel terpilih menunjukkan Bahwa Secara ratarata, kondisi HKm Unit Sambelia mempunyai skor 47,36 yang berarti juga pada kondisi sedang. Hasil evaluasi dari masing-masing aspek diHKm Unit Sambelia dapat dilihat padaTabel 4.



Tabel (Table) 4. Evaluasi kondisi HKm Unit Sambelia berdasarkan aspek (Evaluation of HKm Unit Sambelia condition based on aspect)

 


        no           Aspek (Aspect)                                Skor total        jumlah skor             kelas

1
Teknik (Technical)
35
21,94
Sedang (Moderate)
2
Ekonomi (Economic)
35
10,92
Buruk (Poor)
3
Kelembagaan (Institutional)
30
14,50
Sedang (Moderate)

Jumlah (sum)
100
47,36
Sedang (Moderate)



Beberapa indikator yang menyebabkan secara teknik HKm Unit Sambelia berada pada kelas sedang adalah faktor biofisik seperti ketersediaan air, iklim, kesuburan dan potensi kebakaran, serta kondisi tanaman seperti kemampuan hidup, keragaman dan kerapatan vegetasi.Indikator yang menyebabkan secara kelembagaan HKm Unit Sambelia berada pada kelas sedang adalah sistem pengelolaan kelembagaan seperti tidak berjalan- nya perangkat kelembagaan dan administrasi kelembagaan sesuai kesepakatan pada awal pembentukan. Aspek ekonomi merupakan aspek yang mempunyai kelas buruk. Indikator yang menyebabkan aspek ekonomi HKm Unit Sambelia berada kisaran buruk adalah potensi ekonomi HKm, yaitu terbatasnya potensi ekonomi yang dapat dikembangkan pada lokasi HKm, yang dalam hal ini tidak lepas dari faktor biofisik dan kelembagaan Hkm.

 Ini lah salah satu contoh dalam memberi nilai skor dalam evaluasi hutan kemasyarakatan yang mana pada nanti nya masing masing dari tiap wilayah akan di lakukan penilaian seperti ini tergantung berapa wilayah yg ingin di evaluasi.







KESIMPULAN        

                    Adapun kesimpulan yang dapat di ambil dari jurnal ini adalah :

1.      Hkm atau hutan kemasyarakatan adalah salah satu program pemerintah yang bertujuan untuk peningkatan keadaan ekonomi masyarakat sekitar hutan interakasi yg tercantum di dalam nya bukan hanya sekedar nilai ekonomi nya tetapi termasuk juga nilai nilai kearifan lokal nya

2.       Dalam mencapai hasil yang maksimal tentu di perlukan nya peninjauan lebih lanjut maupun evaluasi evaluasi guna untuk membandingkan keadaan setsudah dan keberlanjutan kegiatan hkm itu sendiri.

3.      Dalam mengevaluasi banyak metode yang dapat di lakukan diantara nya adalah teknik pengumpulan data dengan 2 pendekatan aspek yaitu : aspek teknik dan aspek ekonomi







DAFTAR PUSTAKA



Anonim. Pengalaman Pengembangan Hutan Kemas- yarakatan di NTB. www.dephut.go. id. diakses 12 Desember 2007

Dinas Kehutanan Propinsi NTB. 2007. Pembentukan KPH di Propinsi NTB. Makalah Konsultasi Publik Pembentukan KPH di Propinsi NTB. Mataram

https://media.neliti.com/media/publications/28938-ID-evaluasi-pengelolaan-hutan-kemasyarakatan-hkm-pada-hutan-produksi-dan-hutan-lind.pdf

Komentar

Postingan populer dari blog ini

re-introduce

KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN SKALA KECIL_RIMA TAMARA_14120114