Persepsi Dan Partisipasi Masyarakat Terhadap Pembangunan Hutan Rakyat Pola Kemitraan Di Kabupaten Musi Rawas Propinsi Sumatera Selatan_Utami Meirani_141201160

RESUME BAHAN KULIAH
PERTEMUAN KE-12
MATA KULIAH SOSIOLOGI PENYULUHAN HUTAN

Pengolahan Hutan Berbasis Masyarakat
Persepsi Dan Partisipasi Masyarakat Terhadap Pembangunan Hutan Rakyat Pola Kemitraan Di Kabupaten Musi Rawas
Propinsi Sumatera Selatan
Nama          : Utami Meirani
Nim            : 141201160

PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Hutan rakyat sering disebut dengan istilah hutan milik, karena hutan rakyat merupakan hutan yang dimiliki oleh masyarakat yang dinyatakan kepemilikan lahannya.  Menurut peraturan perundang-undangan (UU no 5 tahun 1967 dan penggantinya UU no 41 tahun 1999) pengertian hutan rakyat adalah hutan yang tumbuh di atas tanah yang dibebani hak milik. Definisi ini untuk membedakan dengan hutan negara, yaitu hutan yang tumbuh di atas tanah yang tidak dibebani hak milik atau tanah negara. Berdasarkan pengertian tersebut perbedaan hutan rakyat dengan hutan negara dilihat berdasarkan status pemilikan tanah atau sifat dari obyek (tanah dan hutan), bukan berdasarkan pelaku atau subyek yang mengelola hutan. Dengan demikian jika rakyat secara perorangan atau kelompok memperoleh hak guna usaha (misal HPH) hutannya tidak disebut sebagai hutan rakyat (Suharjito  2000).
Pengertian partisipasi oleh banyak ahli diartikan sebagai peranserta masyarakat dalam suatu kegiatan, yang bila dikaitkan dengan pembangunan, maka akan merupakan upaya peran serta dalam pembangunan. Slamet (1990) dalam Winarto (2003) mengatakan bahwa partisipasi masyarakat sangatlah mutlak demi berhasilnya suatu program pembangunan. Dapat dikatakan bahwa tanpa adanya partisipasi masyarakat maka setiap pembangunan akan kurang berhasil.  Lebih lanjut dijelaskan bahwa masyarakat yang berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan akan melalui suatu proses  belajar. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengalami proses belajar untuk mengetahui kesempatan-kesempatan berpartisipasi dalam proses pembangunan, dan seringkali kemampuan dan ketrampilan mereka masih perlu ditingkatkan agar dapat memanfaatkan kesempatan-kesempatan tersebut. Menurut Laode (1981) dalam Winarto (2003) menyatakan bahwa kesempatan, kemampuan dan kemauan mutlak harus ada dalam keseimbangan. Apabila salah satu faktor tersebut tidak tercakup maka partisipasi tidak akan sempurna.
            Berdasarkan penelitian Sunartana (2003) mengemukakan bahwa faktorfaktor yang berpengaruh terhadap partisipasi anggota dalam kelompok pengelola dan pelestari hutan antara lain adalah (1) Status sosial, (2) Kekosmopolitan,       (3) Pengalaman berorganisasi, dan (4) Kejelasan hak dan kewajiban.

Tujuan
            Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memahami presepsi masyarakat terhadap hutan rakyat pola kemitraan dan factor apa saja yang mempengaruhu peresepsi tersebut dan mengkaji seberapa jauh partisipasi masyarakat dalam kegiatan hutan rakyat pola kemitraan dan factor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat tersebut.


ISI
Persepsi masyarakat terhadap kegiatan pembangunan hutan rakyat pola kemitraan yang dilaksanakan PT. Xylo Indah Pratama termasuk pada kategori sedang. Persepsi masyarakat ini karena hutan rakyat pola kemitraan ini sesuai apa yang diinginkan masyarakat. Masyarakat menilai dengan adanya hutan rakyat ini berakibat baik terhadap lahan yang dimanfaatkan untuk hutan rakyat yang antara lain dapat meningkatkan kesuburan lahan, meningkatkan produktivitas lahan. Masyarakat juga menilai bahwa pembangunan hutan rakyat  pola kemitraan ini memberikan manfaat kepada mereka, baik secara langsung maupun tidak langsung.. Masyarakat menilai pulai merupakan jenis tanaman yang mudah dan cepat tumbuh, sesuai dengan kondisi iklim dan tanah di Kabupaten Musi Rawas,  mudah dipasarkan dan harga kayunya relatif stabil. Terhadap pola kemitraan pada pembangunan hutan rakyat masyarakat menilai positif, karena  dengan pola kemitraan dalam pembangunan hutan rakyat ini petani mendapatkan jaminan adanya kepastian pembiayaan, kepastian bimbingan teknis dan  kepastian pemasaran
Faktor-faktor yang secara nyata mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap hutan rakyat pola kemitraan adalah umur, tingkat pendidikan, aktivitas penyuluhan dan pemahaman program. Umur yang semakin tua tingkat persepsinya semakin rendah, sedangkan persepsi tinggi dijumpai pada petani yang masih muda. Semakin tinggi tingkat  pendidikan terdapat kecenderungan semakin meningkatnya persepsi. Dalam hal penyuluhan  dengan semakin meningkat kualitas dan kuantitas penyuluhan semakin meningkat pula persepsi masyarakat. Berhubungan dengan pola kemitraan dalam pembangunan hutan rakyat, semakin petani memahami dasar dan manfaat pola kemitraan dalam pembangunan hutan rakyat semakin tinggi pula tingkat persepsinya. tanah. 
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan hutan rakyat pola kemitraan ini termasuk pada kategori sedang. Partisipasi masyarakat umumnya diwujudkan dalam bentuk sumbangan pemikiran, dukungan moril dan dalam bentuk sumbangan tenaga yaitu sebagai tenaga kerja. Partisipasi masyarakat pada kegiatan pembangunan hutan rakyat dengan pola kemitraan  terjalin pada semua kegiatan, yang meliputi kegiatan perencanaan, aktivitas kelompok tani hutan rakyat, pelaksanaan kegiatan hutan rakyat dan kegiatan pengamanan, evaluasi dan pemanfaatan hasil hutan rakyat. Walaupun demikian, ada beberapa kegiatan yang belum melibatkan masyarakat  secara menyeluruh misalnya kegiatan penyusunan rencana program atau evaluasi, karena pada kegiatan tersebut kesempatan untuk berpartisipasi hanya diberikan kepada masyarakat tertentu yaitu tokoh atau pemuka masyarakat.
Tingkat partisipasi  masyarakat pada kegiatan pembangunan hutan rakyat pola kemitraan dipengaruhi secara nyata oleh faktor kelembagaan hutan rakyat, pemahaman hak dan kewajiban dalam kemitraan dan keaktifan dalam mendapatkan informasi serta adanya kebijakan pemerintah. Dengan adanya kelembagaan hutan rakyat ini memberikan kesempatan masyarakat untuk lebih berpartisipasi, sehingga tingkat partisipasinya semakin tinggi. Pemahaman masyarakat terhadap hak dan kewajiban dalam kemitraan akan meningkatkan tingkat partisipasinya. Keaktifan yang tinggi dari masyarakat dalam mencari informasi tentang hutan rakyat akan meningkatkan  partisipasi masyarakat. Sebaliknya semakin petani mengetahui kebijakan pemerintah menunjukkan kecenderungan tingkat partisipasi petani dalam pembangunan hutan rakyat pola kemitraan ini semakin rendah. 

KESIMPULAN
            Faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap persepsi adalah umur, tingkat pendidikan, penyuluhan dan pemahaman program. Berkaitan dengan tingkat persepsi. Tingkat partisipasi  masyarakat pada kegiatan pembangunan hutan rakyat pola kemitraan dipengaruhi secara nyata oleh faktor kelembagaan hutan rakyat. Partisipasi petani dalam pembangunan hutan rakyat dapat lebih ditingkatkan dengan lebih membuka kesempatan kepada masyarakat secara luas untuk lebih berpartisipasi, tidak hanya membatasi pada tokoh-tokoh masyarakat tertentu.




DAFTAR PUSTAKA
Suharjito, D. 2000. Hutan Rakyat Di Jawa Perannya Dalam Perekonomian Desa. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Sunartana, Y.E.P. 2003. Partisipasi Anggota dalam Kelompok Pengelola dan Pelestari Hutan (KPPH). Kasus di kawasan Hutan lindung Register 19 Gunung Betung Lampung. [Tesis]. Program Pascasarjana IPB. Bogor.

Winarto, H. 2003. Partisipasi Masyarakat Dalam Kegiatan Agoforestry. [Tesis]. Program Pascasarjana IPB. Bogor.

Yuwono, S. 2006. Presepsi Dan Pasrtisipasi Masyarakat Terhadap Pembangunan Hutan Rakyat Pola Kemitraan Di Kabupaten Musi Rawas Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana IPB. Bogor.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

re-introduce

KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN SKALA KECIL_RIMA TAMARA_14120114