KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT SEKITAR HUTAN DI DESA TANGAI JAYA KECAMATAN MENTEBAH KABUPATEN KAPUAS HULU_Ananda Ichlasus Amal_121201141
TUGAS MAKALAH SOSIOLOGI KEHUTANAN
KONDISI SOSIAL
EKONOMI MASYARAKAT SEKITAR HUTAN DI DESA TANGAI JAYA KECAMATAN MENTEBAH
KABUPATEN KAPUAS HULU
Oleh:
ANANDA ICHLASUS AMAL
121201141 /
Manajemen Hutan
PENDAHULUAN
Sebagian besar masyarakat di Desa Tangai Jaya memanfaatkan hasil hutan sebagai sumber mata pencaharian mereka. Setiap bentuk pemanfaatan yang dilakukan masyarakat Desa Tangai Jaya pada dasarnya bermula dari adanya manfaat sehari-hari yang menonjol dibanding fungsi lainnya,
sehingga bentuk dari pemanfaatan sumber daya alam yang ada didasari
dengan aturan- aturan atau kearifan tradisional mereka
yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu
keberadaan hutan sangat penting bagi masyarakat lokal yang bermukim disekitarnya. Di lain pihak adanya tingkat ketergantungan masyarakat desa yang
tinggi terhadap hutan, dikarenakan
tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai.
Undang-Undang Kehutanan No. 5 Tahun 1967 dan
No. 41 Tahun 1999 menyatakan bahwa hutan yang tumbuh
diatas tanah yang dibebani hak
atas tanah adalah hutan negara. Terminologi
ini menunjukkan hutan milik sebagai hutan
ulayat, hutan adat, hutan hak, hutan desa, dan hutan rakyat. Kemudian
dipertegas dengan SK Menteri Kehutanan No. 49/Kpts-11/1997 secara jelas menyatakan bahwa hutan rakyat adalah
hutan yang dimiliki oleh rakyat dengan luas minimal 0,25 ha dengan penutupan tajuk tanaman kayu-kayu dan atau jenis lainnya
lebih dari 50% dan atau
jumlah tanaman tahun pertama minimal 500 batang per hektar. Berdasarkan penjelasan tersebut di atas,
jelas bahwa rakyat atau masyarakat Desa Tangai Jaya Kecamatan Mentebah Kabupaten
Kapuas Hulu mempunyai
andil untuk memanfaatkan hutan sebagai sumber peningkatan perekonomian
mereka, dilihat dari
pola hubungan saling ketergantungan
antara manusia dan hutan
dalam suatu interaksi sistem kehidupan adalah keniscayaan. Oleh karena pengelolaan dan pemanfaat hutan bagi masyarakat
penting untuk dilakukan upaya-upaya yang mampu meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat dengan turut serta memanfaatkan ketersediaan sumberdaya alam setempat. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan tingkat sosial ekonomi
masyarakat dari sumberdaya alam terhadap masyarakat setempat
agar masyarakat ikut berperan dalam menjaga
kelestarian sumberdaya alam tersebut.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
pendapatan masyarakat dari pemanfaatan hutan dan tingkat
kesejahteraan masyarakat di Desa Tangai
Jaya Kecamatan Mentebah Kabupaten
Kapuas Hulu.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan 16 – 24 September
2015. Lokasi penelitian
di Desa Tangai Jaya Kecamatan
Mentebah Kabupaten Kapuas Hulu. Pengambilan data secara simple random sampling
kemudian dilakukan
wawancara pada responden tersebut.
Data yang dikumpulkan dan dianalisis secara deskritif. Hasil data pendapatan yang didapat dibuat dalam bentuk tabulasi. Menganalisa pendapatan dengan menjumlahkan seluruh pendapatan yang diterima dari kegiatan usaha tani dan non usaha tani kemudian diukur menggunakan indikator UMR Kabupaten Kapuas Hulu. Sementara Tingkat kesejahteraan masyarakat Desa Tangai Jaya Kecamatan Mentebah Kabupaten Kapuas
Hulu diukur dengan menggunakan
kriteria indikator
keluarga sejahtera menurut BKKBN (1992), yaitu sebagai berikut :
a.
Keluarga
Pra Sejahtera
Adalah keluarga yang belum dapat memenuhi salah satu atau lebih dari 5 kebutuhan dasarnya (basic
needs) sebagai keluarga Sejahtera I, seperti kebutuhan akan pengajaran
agama, pangan, papan, sandang dan kesehatan.
b.
Keluarga
Sejahtera Tahap I
Adalah keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan
dasarnya secara minimal yaitu :
1.
Melaksanakan ibadah menurut
agama oleh masing-masing anggota keluarga.
2.
Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan
2 (dua) kali sehari atau lebih.
3.
Seluruh anggota keluarga
memiliki pakaian yang berbeda untuk
di rumah, bekerja/sekolah dan bepergian.
4.
Bagian yang terluas dari
lantai rumah bukan dari tanah.
5.
Bila anak sakit atau pasangan usia subur
ingin ber KB dibawa kesarana/petugas kesehatan.
c.
Keluarga
Sejahtera tahap II
Yaitu keluarga -
keluarga yang disamping telah dapat
memenuhi kriteria keluarga sejahtera I, harus pula memenuhi
syarat sosial psykologis 6 sampai 14
yaitu :
Anggota Keluarga melaksanakan ibadah secara teratur.
6.
Paling kurang, sekali seminggu keluarga menyediakan daging/ikan/telur
sebagai lauk pauk.
7.
Seluruh anggota keluarga
memperoleh paling kurang satu stel
pakaian baru per tahun.
8.
Luas lantai rumah paling kurang delapan meter
persegi tiap penghuni rumah.
9.
Seluruh anggota keluarga
dalam 3 bulan terakhir dalam keadaan sehat.
10.
Paling kurang 1 (satu) orang anggota keluarga yang berumur
15 tahun keatas mempunyai penghasilan tetap.
11.
Seluruh anggota keluarga yang
berumur 10-60 tahun
bisa membaca tulisan latin.
12.
Seluruh anak berusia 5 - 15 tahun
bersekolah pada saat ini.
13.
Bila anak hidup 2 atau lebih, keluarga yang masih pasangan usia subur memakai kontrasepsi (kecuali sedang hamil)
d.
Keluarga
Sejahtera Tahap III
yaitu keluarga yang memenuhi syarat 1 sampai 14 dan dapat pula
memenuhi syarat 15 sampai 21, syarat pengembangan
keluarga yaitu :
14.
Mempunyai upaya untuk meningkatkan pengetahuan agama.
15.
Sebagian dari penghasilan
keluarga dapat disisihkan untuk tabungan keluarga untuk
tabungan keluarga.
16.
Biasanya makan bersama
paling kurang sekali sehari dan kesempatan
itu dimanfaatkan untuk berkomunikasi antar anggota keluarga.
17.
Ikut serta dalam kegiatan
masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
18.
Mengadakan rekreasi bersama
diluar rumah paling kurang 1 kali/6 bulan.
19.
Dapat memperoleh berita dari
surat kabar/TV/majalah.
20.
Anggota keluarga mampu menggunakan
sarana transportasi yang sesuai dengan kondisi
daerah setempat.
e.
Keluarga
Sejahtera Tahap III Plus Keluarga yang dapat memenuhi
kriteria I sampai 21 dan dapat
pula memenuhi kriteria 22 dan 23
kriteria pengembangan keluarganya yaitu
:
21.
Secara teratur atau pada
waktu tertentu dengan sukarela memberikan
sumbangan bagi kegiatan sosial
masyarakat dalam bentuk materiil.
22.
Kepala Keluarga atau anggota
keluarga aktif sebagai pengurus
perkumpulan/yayasan/institusi masyarakat.
f.
Keluarga Miskin.
Adalah keluarga Pra Sejahtera alasan ekonomi dan KS - I karena
alasan ekonomi tidak dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator
yang meliputi:
a.
Paling kurang sekali
seminggu keluarga makan daging/ikan/telor.
b.
Setahun terakhir seluruh anggota keluarga
memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru.
c.
Luas lantai rumah paling kurang 8 M2 untuk tiap penghuni.
g.
Keluarga
miskin sekali.
Adalah keluarga Pra Sejahtera alasan ekonomi dan KS - I karena
alasan ekonomi tidak dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator
yang meliputi:
a.
Pada umumnya seluruh anggota
keluarga makan 2 kali sehari atau lebih.
b.
Anggota keluarga memiliki pakaian
berbeda untuk dirumah, bekerja/sekolah dan bepergian.
c.
Bagian lantai yang
terluas bukan dari tanah.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Masyarakat Sekitar Hutan di Desa Tangai Jaya
Umur
Umur merupakan salah satu karakteristik individu
yang sangat berperan dalam
menentukan kemampuan kerja (Handoko, 2001 dalam Abd.Kadir, dkk , 2012).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur responden
yang bermukim di sekitar
hutan Desa Tangai Jaya berkisar
19 – 70 tahun, dengan rata-rata umur 38,17 tahun.
Menurut Suyono dalam Hamid, Zulkarnaini, dan Saam
(2011) menyatakan bahwa usia produktif adalah usia yang berada
diatas 10 tahun dan
kurang dari 50 tahun,
sehingga responden pada umumnya masih usia produktif
untuk bekerja. Masyarakat
yang tergolong dalam usia produktif merupakan salah satu potensi dalam meningkatkan
produktivitas dalam memenuhi
kebutuhan hidup mereka. Namun demikian, masyarakat yang tergolong
dalam kategori usia non- produktif
memiliki sisi positif yaitu kedewasaan dalam berfikir dan bertindak meskipun secara fisik (kecepatan,
kecekatan, dan kekuatan) sudah mengalami penurunan. Siagian
(1995) dalam Abd.Kadir (2012),
semakin lanjut usia seseorang maka
diharapkan akan
semakin bijaksana, semakin rasional dalam berpikir dan berperilaku.
Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, akan semakin tinggi pula kualitas hidupnya, selain
itu semakin banyak pilihan serta peluang yang dapat diraih, sehingga mampu berkreatifitas dan berproduktif untuk berpartisipasi dalam pembangunan disegala bidang. Tingkat
pendidikan responden yang
terbanyak adalah berada pada tingkat pendidikan SD/sederajat terdapat sebanyak 35 responden atau (50,00%) dalam hal ini merupakan katagori
tingkat pendidikan rendah.
Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat disebabkan karena sarana pendidikan yang
kurang memadai, hal ini terlihat dari
minimnya sarana pendidikan, berdasarkan
hasil penelitian dari kuesioner yang disebarkan menyatakan bahwa jumlah sekolah, jumlah guru, dan sekolah-sekolah lanjutan yang ada hanya berada di pusat Kecamatan. Sedangkan Di Dusun Padang Jaya dan Dusun Sei Tekuyung masing-masing memiliki satu SD.
Saat ini SMP dan SMA berada di ibu kota Kecamatan, yaitu Mentebah. Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi cara berpikir seseorang, terutama dalam menganalisis suatu permasalahan. Seseorang
yang berpendidikan baik akan mudah mengadopsi terknologi baru, mengembangkan keterampilan, dan memecahkan permasalahan yang dihadapi (Mosher,
1983 dalam Abd.Kadir, dkk, 2012). Kecenderungan yang ada, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka responsif orang tersebut akan semakin banyak perkembangannya terhadap perubahan.
Jumlah Tanggungan
Jumlah tanggungan keluarga dapat mempengaruhi semangat dan tingkat kreativitas keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Jumlah tanggungan keluarga juga dapat mengindikasikan besarnya potensi tenaga
kerja keluarga yang tersedia yang dapat membantu kepala keluarga dalam
usaha memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Tange dalam Rizal, Y. 2015
menyatakan bahwa besarnya jumlah anggota rumah tangga dapat menjadi potensi
tenaga kerja untuk menambah penghasilan keluarga sehingga kebutuhan
minimum dapat terpenuhi, disamping mampu menambah penghasilan
keluarga jumlah anggota
keluarga juga mempengaruhi jumlah pengeluaran rumah tangga jika
diasumsikan bahwa semakin
besar jumlah anggota keluarga maka pengeluaran baik kuantitas maupun kualitas
terhadap pangan akan semakin meningkat. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa 67,15% masyarakat sekitar hutan memiliki jumlah tanggungan
keluarga sebanyak 3 - 4 orang. Kondisi ini
mengharuskan setiap kepala keluarga bekerja lebih keras
untuk memenuhi kebutuhan keluarganya,
dalam hal ini setiap kepala keluarga menjadi termotivasi untuk bekerja, karena dilandasi
dengan semangat, kreativitas, dan potensi tenaga kerja yang dimiliki kepala keluarga tersebut harus terarah kepada hal-hal yang positif.
Jenis Pekerjaan
Pekerjaan pokok masyarakat yang bermukim disekitar hutan di Desa Tangai Jaya umumnya (64,14%) adalah petani (petani
sawah dan kebun). Hal ini berarti bahwa masyarakat di sekitar hutan di Desa Tangai Jaya sangat tergantung kepada potensi sumberdaya
alam berupa lahan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan adanya pekerjaan
atau usaha sampingan ini, dapat menentukan
perbedaan pendapatan keluarga, dan selanjutnya mempengaruhi
kepemilikan aset keluarga. (Hartoyo dan Aniri,
2010). Hal ini dapat disimpulkan
bahwa jenis pekerjaan dapat mempengaruhi seberapa
besar pendapatan yang didapat untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, selain itu juga sebagai penentu kesejahteraan masyarakat.
Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Sekitar Hutan
Pendapatan Masyarakat
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa total pendapatan masyarakat sekitar hutan di Desa Tangai Jaya berkisar antara Rp.100.000,-/bulan
- Rp.30.500.000,-
/bulan dengan rata-rata total
pendapatan sebesar Rp.2.235.857,-/bulan. Sesuai tingkat kesejahteraan masyarakat menurut UMR (Upah Minimum Regional) Kabupaten Kapuas Hulu sebesar Rp.1.600.000,-/bulan diketahui bahwa sebanyak
31,43% atau 25 orang masyarakat sekitar
hutan di Desa Tangai Jaya memiliki pendapatan di atas > Rp.1.600.000,-/bulan, sedangkan 58,57% atau 43 orang masyarakat
sekitar hutan memiliki pendapat di bawah < Rp.1.600.000,-/bulan
dan sekitar 2,86% atau 2 orang
masyarakat memiliki pendapatan
Rp.1.600.000,-/bulan merupakan suatu
standar UMR Kabupaten Kapuas Hulu dapat dilihat
pada tabel
Tabel 1. Pendapatan
Masyarakat Desa Tangai Jaya (Income of
Tangai Jaya Community)
|
Pendapatan
|
Desa
Tangai Jaya
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
|
Dusun
Padang Jaya
|
Dusun
Sungai Tekuyung
|
|||
|
>Rp.1.600.000
|
9
|
16
|
25
|
31,43%
|
|
Rp.1.600.000
|
0
|
2
|
2
|
2,86%
|
|
<Rp.1.600.000
|
21
|
22
|
43
|
58,57%
|
|
Jumlah
|
30
|
40
|
70
|
100,00%
|
Tabel
2. Tingkat Ketergantungan Masyarakat Sekitar Hutan di Desa Tangai Jaya (Level
of Dependency of the Community Around the Forest in Tangai Jaya Village)
|
Tingkat Ketergantungan
Masyarakat Sekitar Hutan di Desa Tangai Jaya
|
Jumlah
Responden
(KK)
|
Persentase (%)
|
|
Sangat Rendah (0% - 19,9%)
|
54
|
75,71%
|
|
Rendah (20% – 39,9%)
|
1
|
1,43%
|
|
Sedang (40% - 59,9%)
|
1
|
1,43%
|
|
Tinggi (60% - 79,9%)
|
7
|
10,00%
|
|
Sangat Tinggi (80% - 100%
|
8
|
11,43%
|
Adapun
pendapatan masyarakat
tersebut diperoleh dari
hasil pertanian yaitu berkisar antara Rp.210.000,-/bulan – Rp.4.500.000,-/bulan dengan rata-rata pendapatan Rp.217.786/bulan. Untuk
pendapatan dari hasil mencari gaharu
yaitu berkisar antara Rp.500.000,-/bulan
– Rp.5.000.000,-/bulan dengan rata-rata pendapatan Rp.363.571,-/bulan. Adapun
pendapatan dari PETI yaitu
Rp.500.000,-/bulan – Rp.30.000.000,-/
bulan dengan rerata Rp.628.571,-/bulan.
Kemudian masyarakat yang memperoleh pendapatan dari perdagangan
berkisar antara Rp.600.000,-/bulan Rp.12.000.000,-/bulan dan rata-rata pendapatan Rp.315.000,-/bulan.
Masyarakat yang memperoleh pendapatan dari bekerja sebagai kuli memperoleh pendapatan berkisar antara Rp.500.000,-/bulan
– Rp.800.000,-/bulan dengan rata-rata
pendapatan antara Rp.55.571,-/bulan.
Kemudian masyarakat yang memperoleh pendapatan dari bekerja sebagai PNS dan Karyawan
memperoleh pendapatan berkisar antara Rp.1.500.000,-/bulan – Rp.5.000.000,-
/bulan dengan rata-rata pendapatan Rp.190.000,-/bulan. Adapun masyarakat yang memperoleh pendapatan dengan
bekerja sebagai tukang memiliki pendapatan berkisar antara Rp.700.000,- /bulan –
Rp.5.000.000,-/bulan dengan rata-rata pendapatan Rp.230.000,-/bulan. Masyarakat yang
memperoleh pendapatan dari noreh memperoleh pendapatan berkisar antara Rp.100.000,- /bulan –
Rp.1.000.000,-/bulan dengan rata-rata pendapatan Rp.225.357,-/bulan. Kemudian masyarakat yang memperoleh pendapatan dari menjual anyaman memperoleh pendapatan berkisar antara Rp.200.000,-/bulan.
Terdapat 75,71% atau 53 orang
masyarakat sekitar hutan di Desa Tangai Jaya tidak memiliki ketergantungan akan pendapatan terhadap kawasan disekitar hutan yang ada
di Desa Tangai Jaya. Sedangkan 24,29%
atau 17 orang masyarakat memiliki ketergantungan
pendapatan terhadap kawasan disekitar hutan yang ada
di Desa Tangai Jaya. Tanaman gaharu
menjadi salah satu komoditas yang paling banyak
di
cari oleh masyarakat di dalam hutan yang berada di
Desa Tangai Jaya. Pendapatan masyarakat yang bersumber dari tanaman gaharu ini berkisar antara Rp.500.000,-
/bulan – Rp.5.000.000,-/bulan dengan rata-rata sebesar Rp.320.714,-/bulan. Kontribusi pendapatan dari tanaman gaharu
terhadap total pendapatan
masyarakat disekitar hutan berkisar antara 20,0% - 100,00% dengan rata-rata sebesar 21,43%. Meskipun
secara rata- rata kontribusi
gaharu terhadap total pendapatan
petani hanya sebesar 21,43% namun sangat
strategis terhadap kelangsungan ekonomi masyarakat. Jenis tanaman yang dikembangkan
oleh masyarakat terdiri dari tanaman
pertanian/semusim seperti padi, jagung, ubi, timun, perenggi,
cabe, jahe, dan kunyit. Pemilihan jenis tanaman tersebut telah dipertimbangkan secara matang dimana mereka telah memikirkan kesinambungan
pendapatan baik untuk keperluan sehari-hari. Selain mengembangkan
jenis tanaman pertanian/semusim, masyarakat juga mengelola perkebunan yang berada
disekitar ladang yang
terletak disekitar hutan. Banyak jenis
perkebunan yang ada
di Desa Tangai Jaya seperti karet,
durian, rambutan, kelapa, pisang, cempedak, langsat, dan lain-lain. Masyarakat Desa Tangai
Jaya juga memanfaatkan tanaman kehutanan kratom borneo. Tanaman ini tidak
mereka budidayakan tetapi mereka mencari
di dalam hutan yang kemudian mereka jual ke pengumpul yang dijual
dengan harga Rp. 34.000,-/Kg. Masyarakat di Desa Tangai Jaya juga memanfaatkan sumberdaya alam yang ada disekitar mereka
untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka terutama untuk kebutuhan pangan.
Seperti sumberdaya alam yang dimanfaatkan seperti kayu
bakar, produk pohon lainnya (bukan kayu), buah-buahan liar, sayur-sayuran liar,
serangga, ikan sungai, hewan liar
dan tanaman obat. Seperti pemanfaatan kayu bakar kebanyakan
masyarakat memanfaatkan kayu karet.
Untuk buah- buahan liar masyarakat banyak mencari
durian yang ada di hutan pada
musim tertentu. Kemudian untuk
sayuran liar rata-rata masyarakat memanfaatkan pakis, rebung,
umbut rotan dan umbut kelapa. Untuk serangga masyarakat rata-rata mencari buntak (belalang). Selain itu masyarakat juga mencari ikan yang ada di sungai
yaitu ikan patin dan ikan selomang.
Untuk hewan liar masyarakat
tidak mencarinya dihutan (berburu)
tetapi membeli dari penjual yang biasa berburu di hutan. Keberadaan
hutan bagi masyarakat di Desa
Tangai Jaya masih memiliki ketergantungan
dalam pemenuhan kebutuhan hidup
sehari-hari. Akan tetapi hutan tidak memiliki
peranan untuk memenuhi
kebutuhan ekonomi masyarakat. Hal ini disebabkan karena masih kurangnya
pengetahuan dalam pemanfaatan sumber daya alam yang dapat dijadikan
komoditas dalam
pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat. Investasi dalam pendidikan dan pelatihan
merupakan instrumen yang mempunyai potensi besar dalam upaya
menurunkan perbedaan pendapatan dan meningkatkan
produktivitas serta memberikan pendapatan kepada golongan
ekonomi bawah (Radwan 1995). Perbaikan pendidikan mengakibatkan
peningkatan produktivitas dalam pertanian,
karena petani yang
berpendidikan cenderung memiliki
rasa keingintahuan yang lebih tinggi akan
teknik produksi dan cepat
inovasi baru. Secara umum pendidikan juga meningkatkan
kemampuan petani
untuk merespon aktivitas pertanian dan
nonpertanian. Saat ini masyarakat
lebih terpengaruh untuk melakukan
pekerjaan lain yang dinilai lebih meningkatkan
perekonomian masyarakat seperti PETI dan mencari gaharu.Tingkat
Kesejahteraan Masyarakat Terdapat 98,57% atau 69 Kepala Keluarga
dikategorikan Keluarga Sejahtera Tahap I dan 1,43%
atau 1 Kepala Keluarga dikategorikan Keluarga Sejahtera Tahap III.
Yang mana terdapat 30
KK di Dusun Padang Jaya dan
39 KK di Dusun Sungai Tekuyung masuk dalam kategori Keluarga Sejahtera Tahap I. Sedangkan 1 KK dari Dusun Sungai
Tekuyung masuk dalam kategori Keluarga Sejahtera Tahap III. Disajikan
pada tabel 3
Tabel 3. Kategori Kesejahteraan Masyarakat di Desa Tangai Jaya Kecamatan
Mentebah Kabupaten Kapuas Hulu (Category of Welfare in Tangai
Jaya Village of Mentebah Subdistrict in Kapuas
Hulu Regency)
|
|
|
Desa Tangai Jaya
|
|
||
|
No
|
Kategori Kesejahteraan
|
Dusun
Padang Jaya
|
Dusun Sungai Tekuyung
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1
|
Keluarga Pra Sejahtera
|
0
|
0
|
0
|
0,00%
|
|
2
|
Keluarga Sejahtera Tahap I
|
30
|
39
|
69
|
98,57%
|
|
3
|
Keluarga
Sejahtera Tahap II
|
0
|
0
|
0
|
0,00%
|
|
4
|
Keluarga
Sejahtera Tahap III
|
0
|
1
|
1
|
1,43%
|
|
5
|
Keluarga
Sejahtera Tahap III Plus
|
0
|
0
|
0
|
0,00%
|
|
6
|
Keluarga
Miskin
|
0
|
0
|
0
|
0,00%
|
|
7
|
Keluarga
miskin sekali
|
0
|
0
|
0
|
0,00%
|
|
|
Jumlah
|
30
|
40
|
70
|
100,00%
|
Kondisi sosial ekonomi suatu keluarga akan mencerminkan bagaimana 35 tingkat kesejahteraan
keluarga tersebut. Hal ini didasari
oleh mampu atau tidaknya terhadap
pemenuhan kebutuhan yang menjadi tolak ukur kesejahteraan
keluarga. Jika
suatu keluarga dikatakan mampu untuk memenuhi kebutuhannya, maka keluarga
tersebut dikatakan sejahtera. Begitu pula
sebaliknya, jika keluarga tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarganya,
maka dikatakan tidak sejahtera (Oktama, R.Z 2013).
PENUTUP
Kesimpulan
Tingkat pendapatan masyarakat menurut
UMR Kabupaten Kapuas Hulu sebesar Rp.1.600.000,-/bulan
diketahui bahwa sebanyak
31,43% masyarakat memiliki pendapatan di atas > Rp.1.600.000,-/bulan, sedangkan 58,57% masyarakat memiliki pendapat di bawah
< Rp.1.600.000,-/bulan dan sekitar
2,86% masyarakat memiliki pendapatan Rp.1.600.000,-/bulan merupakan suatu
standar UMR Kabupaten Kapuas Hulu. Tingkat
kesejahteraan masyarakat di Desa Tangai
Jaya yaitu terdapat 98,57%
Kepala Keluarga dikategorikan Keluarga Sejahtera Tahap I dan 1,43% Kepala Keluarga dikategorikan Keluarga
Sejahtera Tahap III. Yang mana terdapat 30 KK di Dusun Padang Jaya dan 39 KK di Dusun
Sungai Tekuyung masuk dalam kategori
Keluarga Sejahtera Tahap I.
Sedangkan 1 KK dari Dusun Sungai Tekuyung masuk dalam kategori
Keluarga Sejahtera Tahap III.
Saran
1.
Perlu adanya
kegiatan penyuluhan dan sosialisasi tentang pemanfaatan hutan kepada masyarakat agar masyarakat lebih menjaga
kelestarian dalam pemanfaatan hutan.
2.
Perlu adanya kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk memperbaiki pendapatan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Abd. Kadir W, S. A. Awang, Purwanto,
R. A. dan Poedjirahajoe,
E. (2012) Analisis Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Sekitar Taman Nasional Batimurung Bulusaraung,
Propinsi Sulawesi Selatan. Universitas Gajahmada:
Yogyakarta. Jurnal Penelitian Manusia dan Lingkungan Vol. 19, No. 1
Anonim, Indikator dan Kriteria Keluarga Menurut BKKBN.
Hamid, R. Zulkarnaini. dan Saam, Z. (2011) Analisis Sosial Ekonomi
Masyarakat Desa Hutan
Pasca Kegiatan HPH PT. Siak
Raya Timber di Kabupaten
Pelalawan Provinsi Riau. Universitas Riau. Jurnal Ilmu Lingkungan,
2011 ISSN 1978-5283.
Hartoyo dan Aniri, N. B. (2010) Analisis Tingkat Kesejahteraan Keluarga
Pembudidaya Ikan dan Nonpembudidaya Ikan di Kabupaten Bogor. Institut Pertanian Bogor. Jurnal Penelitian Ilmu Keluarga dan Konsumen, 2010 ISSN 1907-6037.
Oktama, R. Z. (2013) Pengaruh Kondisi
Sosial Ekonomi Terhadap Tingkat
Pendidikan Anak Keluarga Nelayan di Kelurahan Sugihwaras Kecamatan Pemalang Kabupaten Pemulang Tahun 2013 (Skripsi), Semarang: Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. (Diakses pada tanggal 29 Maret
2016).
Radwan S. 1995. Challenges
and Scope for an Employment
Intensive Growth
Strategy. Di dalam:
Von Braun J, editor. Employment
for Poverty Reduction and Food
Security. Washington DC: International Food and Policy Research Institute.
Rizal, Y. (2015) Analisis Pendapatan Masyarakat dalam Pemanfaatan
Hutan Tembawang di Desa Salumang
Kecamatan Mempawah Hulu Kabupaten Landak (Skripsi), Pontianak: Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura.
Komentar
Posting Komentar