Interaksi Komunitas Lokal di Taman Nasional Gunung Leuser (Studi Kasus Kawasan Ekowisata Tangkahan, Sumatera Utara)_Alfinsyahri_141201164


Paper Tugas Sosiologi Kehutanan                                                      Medan, Agustus 2018

Interaksi Komunitas Lokal di Taman Nasional Gunung Leuser

(Studi Kasus Kawasan Ekowisata Tangkahan, Sumatera Utara)



Dosen Penanggung Jawab

Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si

Disusun oleh:
Alfinsyahri

141201164

Budidaya Hutan






logo usu baru



























PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2018

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkah dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas sosiologi hutan ini dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini merupakan salah satu syarat dalam komponen penilaian mata kuliah sosiologi hutan di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara, Medan.

            Penulis menyadari bahwa penulisan laporan ini mendapat banyak bantuan secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si sebagai dosen mata kuliah sosiologi hutan yang telah memberikan materi dengan baik dan benar.

Dalam penulisan tugas ini, masih banyak kesalahan yang terjadi baik dalam penulisan maupun penyajiannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, semoga makalah ini berguna bagi kita semua.



Medan, Agustus 2018







                   Penulis













DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...............................................................................................   i

DAFTAR ISI .............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang ............................................................................................. 1

BAB II ISI................................................................................................................... 4

BAB III PENUTUPAN

          3.1. Kesimpulan................................................................................................ 12

1. 

2. 

3. 

DAFTAR PUSTAKA

































BAB I

PENDAHULUAN



1.1  Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi kawasan konservasi dengan luas 27.455.623,77 ha (Pusat Informasi Kehutanan, 2009) yang terdiri dari Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam dan Taman Buru dimana sebagian besarnya merupakan Taman Nasional (TN). Banyak taman nasional yang ada di Indonesia saat ini terancam kelestariannya dikarenakan konsep pengelolaan yang sangat sentralistik dan kerap mengabaikan keberadaan masyarakat adat lokal yang justru telah hidup di kawasan-kawasan tersebut secara turun-temurun, dari generasi ke generasi. Diperkirakan sejumlah 48,8 juta orang di Indonesia menggantungkan hidupnya secara langsung kepada keanekaragaman hayati di alam. Dan tak kurang 10,2 juta diantaranya masuk ke dalam kategori miskin (Yuliani dan Tadjudin, 2006). Keberadaan taman nasional telah menyebabkan terbatasnya akses masyarakat di dalam pemanfaatan sumber daya alam. Hal inilah yang menjadi titik terjadinya konflik kepentingan antara kepentingan konservasi dan kepentingan rakyat.

Untuk mengatasi hal ini maka Menteri Kehutanan mengeluarkan Peraturan Menteri Kehutanan RI Nomor P.49/Menhut-II/2008 tentang Hutan Desa yang merupakan jembatan dari pemerintah agar hutan dikelola berbasis masyarakat yang sudah mengetahui mengenai kearifan lokal dan arti penting keberadaan hutan dalam menjamin kehidupan mereka tentunya dengan tetap memegang aspek konservatif. Dengan demikian kegiatan konservasi menjadi sesuatu yang sangat penting dalam pemulihan sumber daya hutan dan berpengaruh dalam pemanfaatan. Bentuk pemanfaatan yang dianggap dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan dalam meningkatkan pendapatan masyarakat lokal adalah ekowisata. Hal ini karena ekowisata dirancang sedemikian rupa sehingga dapat membantu pembiayaan konservasi dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar dengan mencakup tiga aspek di dalam pengelolaannya yaitu aspek ekologi, ekonomi dan sumberdaya.

Ekowisata juga menjadi sesuatu yang dikedepankan sebagai suatu strategi untuk membantu permasalahan yang berkaitan dengan sosial dan ekonomi di dalam masyarakat-masyarakat lokal, dan sebagai satu alat yang efektif dan yang sesuai bagi konservasi lingkungan (Garrod, 2003). Pengembangan ekowisata di areal kawasan  taman nasional menyebabkan adanya interaksi komunitas lokal dengan kawasan. Interaksi ini memberikan pengaruh yang dinamis terhadap kawasan dan diharapkan interaksi ini adalah interaksi yang mampu meningkatkan kualitas kehidupan dalam masyarakat dan sekaligus mengkonservasi warisan alam dan budaya.

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) adalah salah satu taman nasional di Indonesia yang melaksanakan kegiatan ekowisata dalam rangka pengelolaan kawasan. Permasalahan terbesar yang sebelumya dihadapi oleh taman nasional ini khususnya wilayah hutan tangkahan adalah maraknya perambahan hutan sehingga mengakibatkan kerusakan kawasan yang sangat parah. Namun setelah adanya penyelenggaraan kegiatan ekowisata di Kawasan Ekowisata Tangkahan (KET) yang merupakan salah satu pintu masuk menuju Taman Nasional Gunung Leuser telah mampu mengubah perilaku masyarakat di sekitar kawasan yang awalnya merupakan perambah hutan menjadi penjaga hutan sehingga kawasan ini aman dari perambahan hutan. Kegiatan ekowisata telah menyebabkan masyarakat Tangkahan di Desa Namo Sialang dan Sei Serdang, Kabupaten Langkat, yang berada di pinggir TNGL, mampu dirubah menjadi “social buffer” untuk menjaga taman nasional. Keterlibatan komunitas lokal dalam pengelolaan kawasan konservasi menyebabkan KET telah menjadi icon baru dimana komunitas lokal memperoleh manfaat dari mengelola ekowisata sekaligus menjaga taman nasional. Dengan mengakui hak dan kepentingan komunitas lokal sebagai pemangku alam, rasa tanggung jawab muncul, sehingga terjadilah sinergi atas Kelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan komunitas lokal. 

Namun permasalahannya apakah ekowisata yang telah dikembangkan sudah mampu meningkatkan kesejahteraan komunitas lokal. Komunitas lokal merupakan salah satu factor kunci yang menentukankeberhasilan pengelolaan kawasan konservasi yan berkelanjutan. Dengan demikian tingkat kesejahteraan dan peran serta komunita lokal merupakan salah satu faktor penting untuk mendukung tetap terjaganya keberlanjutan kawasan konservasi sehingga untuk itu sangat perlu dilakukan sebuah studi untuk mempelajari dinamika interaksi komunitas lokal yang tinggal berdekatan  dengan kawasan taman nasional dimana kegiatan ekowisata sudah dilaksanakan dan dengan tetap memperhatikan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.

Oleh karena itu yang menjadi tujuan penelitian ini adalah mengindentifikasi bentuk – bentuk interaksi komunitas lokal dengan kawasan ekowisata tangkahan, mengetahui seberapa jauh interaksi komunitas lokal dan dampaknya terhadap kawasan ekowisata tangkahan, mengidentifikasi jenis – jenis pendapatan dan besarnya tingkat pendapatan yang diperoleh komunitas lokal dari kawasan ekowisata tangkahan dan mengindentifikasi bentuk – bentuk aksi konservasi yang dilakukan komunitas lokal dalam rangka menjaga kelestarian kawasan ekowisata tangkahan.






































BAB II

ISI

A.    Bentuk – Bentuk Interaksi Komunitas Lokal

Interaksi komunitas lokal adalah aktifitas harian yang dilakukan oleh komunitas lokal dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Berdasarkan hasil pengamatan pada lokasi penelitian bentuk interaksi komunitas lokal sekitar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL)

1. Aktifitas ekowisata.

Ekowisata merupakan aktifitas yang berkembang di komunitas lokal sebagai alternatif mata pencaharian setelah adanya pengelolaan secara kolaborasi antara masyarakat lokal melalui Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) dan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser. Bentuk – bentuk aktifitas ekowisata yang dilakukan masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya adalah pengelolaan penginapan, warung, guide, pertanian, penyewaan lahan, pengambilan hasil hutan (ikan), pawang gajah, ojek, penyebrangan sungai dan pencucian kendaraan.

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan pada tiga dusun penelitian diketahui dusun yang komunitas lokalnya melakukan aktifitas ekowisata untuk menambah kebutuhan ekonominya adalah Dusun Kuala Buluh dan Dusun Kuala Unggas dengan jumlah jenis mata pencaharian masing – masing dusun sebanyak 9 jenis dan 3 jenis karena dua dusun ini merupakan dusun yang dekat dengan kawasan ekowisata. Sedangkan Dusun Rimo Kayu tidak memilki komunitas lokal yang melakukan aktifitas ekowisata untuk menambah kebutuhan perekonomiannya dikarenakan jarak yang jauh dan belum tersedianya lapangan kerja yang cukup bagi keseluruhan komunitas lokal yang tinggal di sekitar Kawasan Ekowisata Tangkahan. Oleh karena itu dapat diambil suatu pemahaman bahwa tinggi rendahnya intensitas interaksi terhadap kawasan sangat ditentukan oleh jarak tempat tinggal.

2. Aktifitas non – ekowisata.

Aktifitas non ekowisata yang dilakukan komunitas lokal dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya dapat dibedakan menjadi tiga yaitu

(1)   pengambilan hasil hutan,

(2)   aktifitas pertanian dikelompokkan menjadi aktifitas bertani (tanaman pertanian dan perkebunan), buruh tani dan beternak dan

(3)   aktifitas non pertanian dikelompokkan menjadi buruh harian lepas,warung, wiraswasta, karyawan BUMN, karyawan swasta, Pegawai Negeri Sipil, bengkel dan honorer. Namun dari ketiga bentuk aktifitas non – ekowisata diketahui bahwa aktifitas pertanian adalah aktifitas yang paling mendominasi dilakukan oleh komunitas lokal di dalam rangka memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Aktifitas pertanian merupakan mata pencaharian utama masyarakat dan sudah dilakukan secara turun - temurun. Aktifitas non ekowisata merupakan aktifitas yang terlebih dahulu dilakukan oleh komunitas lokal. Berdasarkan hasil studi diketahui bentuk aktifitas non ekowisata yang dilakukan oleh komunitas lokal didominasi oleh aktifitas bertani baik itu tanaman pertanian maupun tanaman perkebunan. Penduduk asli dari komunitas lokal pada umumnya memiliki lahan yang ditanami dengan tanaman pertanian dan perkebunan sedangkan para pendatang pada umumnya adalah bekerja sebagai buruh tani. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa komunitas lokal yang tinggal di sekitar kawasan taman nasional pada umumnya adalah bermata pencaharian sebagai petani.

Dari hasil studi juga diketahui maka dusun yang memiliki keanekaragaman mata pencaharian yang bersumber dari aktifitas non ekowisata yang paling banyak adalah Dusun Rimo Kayu yaitu sebanyak 10 jenis. Sedangkan di Dusun Kuala Unggas terdapat 8 jenis mata pencaharian dan di Dusun Kuala Buluh hanya terdapat 7 jenis mata pencaharian non ekowisata. Dusun Rimo Kayu memiliki keanekaragaman mata pencaharian dari sektor non ekowisata yang lebih banyak dikarenakan dusun ini sudah lebih dekat kepada ibukota kecamatan sehingga peluang untuk melakukan aktifitas mata pencaharian di luar aktifitas ekowisata lebih tinggi dibandingkan dengan dusun lain.

B.     Dampak Interaksi Komunitas Lokal Terhadap Kawasan Ekowisata

Berdasarkan hasil studi terhadap interaksi yang dilakukan oleh komunitas lokal, maka derajat interaksi komunitas lokal di sekitar Kawasan Ekowisata Tangkahan ditunjukkan bahwa derajat interaksi komunitas lokal belum sampai kepada tahapan buruk. Derajat interaksi komunitas lokal dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu

1. Kategori Interaksi Komunitas dan Ekosistem yang Sangat Baik

Bentuk interaksi komunitas lokal terhadap Kawasan Ekowisata Tangkahan dengan derajat interaksi yang sangat baik dari sisi ekologi adalah pengambilan hasil hutan baik yang dimanfaatkan untuk aktifitas ekowisata maupun untuk aktifitas non ekowisata. Hasil hutan yang dimanfaatkan oleh komunitas lokal dalam berinteraksi dengan kawasan hutan adalah ikan. Berdasarkan hasil studi terhadap ke tiga dusun penelitian diketahui bahwa hanya komunitas lokal yang tinggal di Dusun Kuala Buluh yang melakukan aktifitas pengambilan ikan di sungai. Hal ini dikarenakan letak Dusun Kuala Buluh berada paling dekat dengan kawasan hutan.

Berdasarkan hasil studi juga diketahui bahwa pada umumnya komunitas lokal yang berada di sekitar Kawasan Ekowisata Tangkahan khususnya Dusun Kuala Buluh dalam melakukan aktifitas pengambilan ikan di sungai masih mempertahankan metode sederhana yang sifatnya tidak merusak yaitu memancing dan menjala sehingga kelestarian ikan di sungai tetap terjaga. Selain itu jumlah ikan yang diambil oleh warga komunitas lokal adalah terbatas karena hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga. Komunitas lokal baru hanya pada bulan tertentu yaitu bulan Pebruari – Maret mengambil ikan dalam jumlah banyak karena pada bulan tersebut adalah musim ikan. Ikan yang didapat pada umumnya selain dikonsumsi juga dijual untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga.

C.     Analisis Interaksional Kegiatan Ekowisata Di Taman Nasional Gunung Leuser

Analisis interaksional kegiatan ekowisata oleh komunitas lokal terhadap Kawasan Ekowisata Tangkahan dilakukan dengan menggunakan prinsip – prinsip yang terdapat di dalam ekowisata yaitu konservasi, partisipasi, edukasi, rekreasi, ekonomi lokal dan lembaga lokal.

1. Konservasi

Berdasarkan pengukuran terhadap parameter yang terdapat di dalam prinsip konservasi diketahui bahwa penyelenggaraan ekowisata di Kawasan Ekowisata Tangkahan mengandung prinsip konservasi yang sangat baik

2. Partisipasi

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap 60 rumah tangga di tiga dusun yang menjadi lokasi penelitian komunitas lokal sudah memiliki partisipasi yang baik di dalam menjaga kawasan hutan sedangkan partisipasi komunitas lokal untuk terlibat di dalam masih rendah. Hal ini dikarenakan dari 60 rumah tangga yang menjadi unit analisa dari peneltian ini hanya 19 rumah tangga (32 %) yang ikut terlibat di dalam aktifitas ekowisata dan menjadikan aktifitas ekowisata menjadi salah satu alternatif mata pencahariannya. Rumah tangga yang ikut terlibat di dalam aktifitas ekowisata didominasi oleh rumah tangga yang tinggal berdekatan dengan Kawasan Ekowisata Tangkahan.

3. Edukasi

Dalam pelaksanaan aktifitas ekowisata yang menjadi sasaran edukasi adalah komunitas lokal yang tinggal di sekitar kawasan dan wisatawan yang dating berkunjung. Berdasarkan penilaian terhadap parameter yang terdapat di dalam prinsip edukasi diketahui bahwa Kawasan Ekowisata Tangkahan memiliki prinsip edukasi yang kurang baik. Hal ini dikarenakan hanya komunitas lokal yang dapat merasakan dampak dari keberadaan ekowisata sedangkan pengunjung kurang mendapatkan pengalaman terhadap kawasan yang dikunjunginya.

4. Rekreasi

Berdasarkan pengukuran terhadap parameter yang diamati diketahui bahwa Kawasan Ekowisata Tangkahan memiliki prinsip rekreasi yang baik. Kondisi ini menyebabkan Kawasan Ekowisata Tangkahan dapat direkomendasikan sebagai destinasi ekowisata yang layak untuk dikunjungi oleh wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik.

5. Ekonomi Lokal

Pelaksanaan ekowisata di Kawasan Ekowisata Tangkahan telah mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang baru dan membuka peluang untuk mencari nafkah bagi komunitas lokal yang tinggal berada di sekitar Kawasan Ekowisata Tangkahan. Namun permasalahannya, berdasarkan pengukuran parameter terhadap ekonomi komunitas lokal di sekitar Kawasan Ekowisata Tangkahan diketahui bahwa lapangan pekerjaan yang bersumber dari aktifitas ekowisata masih memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap kehidupan perekonomian komunitas lokal dan belum dapat melakukan transformasi ekonomi lokal dari berbasis sumberdaya alam ke non sumberdaya alam.

IV. STRUKTUR EKONOMI DAN KONSERVASI KOMUNITAS LOKAL

A.    Profil Aktifitas Ekowisata

Aktifitas ekowisata yang dilakukan di Kawasan Ekowisata Tangkahan adalah bertujuan untuk mengubah perilaku komunitas lokal yang pada awalnya sebagai pelaku penebangan liar dan perambah hutan menjadi pelaku konservasi dengan menjaga hutan dan sekaligus sebagai alternatif mata pencaharian bagi komunitas lokal dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Penyelenggaraan ekowisata di kawasan ini masih berjalan lambat dikarenakan aktifitas ekowisata merupakan hal yang baru bagi komunitas lokal sehingga belum memahami apa itu ekowisata dan apa yang harus mereka lakukan dengan adanya aktifitas ekowisata di wilayah mereka bertempat tinggal.

B.     Profil Aktifitas Non Ekowisata

Berdasarkan pengamatan pada ke tiga lokasi penelitian terdapat 13 jenis aktifitas non ekowisata yang dilakukan komunitas lokal dalam rangka memebuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga. Aktifitas non ekowisata dapat dikelompokkan menjadi pengambilan hasil hutan, aktifitas pertanian(aktifitas bertani tanaman pertanian dan perkebunan, buruh tani dan peternakan) , dan aktifitas non pertanian (buruh harian lepas, warung, wiraswasta, karyawan BUMN, karyawan swasta, Pegawai Negeri Sipil, bengkel dan honorer). Namun secara keseluruhan bentuk aktifitas non ekowisata yang dilakukan oleh komunitas lokal di dominasi oleh aktifitas pertanian. Berdasarkan hasil studi aktifitas non ekowisata yang terdiri dari pengambilan hasil hutan, aktifitas pertanian dan non pertanian terhadap ke tiga dusun penelitian, maka diketahui bahwa aktifitas ekonomi yang berasal dari sektor pertanian adalah merupakan sumber penghasilan utama dari komunitas lokal.



C.    Dampak Aktifitas Ekowisata Terhadap Kehidupan Perekonomian Rumah Tangga

Penyelenggaraan ekowisata merupakan salah satu upaya untuk melestarikan dan mengurangi kerusakan sumberdaya alam, termasuk hutan dan taman nasional. Keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi sangat tergantung kepada kadar dukungan dan penghargaan yang diberikan oleh komunitas lokal yang tinggal di sekitar kawasan konservasi. Untuk mencapai dukungan dan penghargaan ini diantaranya adalah dengan memberikan manfaat ekonomi bagi komunitas lokal dan salah satunya adalah dengan penyelenggaraan ekowisata. Aktifitas ekowisata merupakan salah satu alternatif mata pencaharian bagi komunitas lokal yang tinggal berdekatan dengan kawasan konservasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan komunitas lokal. Berdasarkan hasil studi terhadap komposisi pendapatan total rata - rata rumah tangga di lokasi  ekowisata merupakan aktifitas yang menyumbangkan pendapatan terbesar dari total keseluruhan pendapatan rumah tangga pada ketiga lokasi penelitian setiap tahunnya

D.    Analisis Interaksi Ekonomi Komunitas Lokal Dengan Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser

Berdasarkan hasil studi di lokasi penelitian interaksi ekonomi komunitas lokal dengan kawasan hutan belum menyebabkan terjadinya gangguan terhadap kawasan Taman Nasional Gunung Leuser tetapi keberadaan komunitas lokal telah memberikan dampak positif terhadap kelestarian hutan. Hal ini dikarenakan ketergantungan komunitas lokal terhadap kawasan hutan adalah rendah dan sebahagian komunitas lokal sudah memahami arti dan fungsi hutan bagi kehidupan mereka. Walaupun demikian interaksi ekonomi komunitas lokal dengan kawasan hutan memiliki peluang terhadap terjadinya kerusakan kawasan karena komunitas lokal belum secara merata merasakan adanya manfaat ekowisata yang diselenggarakan di Kawasan Ekowisata Tangkahan.

Dampak Positif

Dampak positif terhadap kawasan dengan adanya interaksi komunitas lokal terhadap lingkungan di sekitar kawasan taman nasional :

1. Kawasan aman dari perambahan hutan

Aktifitas ekowisata sebagai salah satu bentuk interaksi ekonomi komunitas lokal telah membuat kawasan taman nasional gunung leuser di wilayah tangkahan. Hal ini dikarenakan komunitas lokal sudah merasakan arti, manfaat dan fungsi hutan bagi kehidupan mereka serta juga merasakan adanya manfaat ekowisata terhadap perekonomian rumah tangga walaupun belum memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap keseluruhan pendapatan yang diperoleh oleh komunitas lokal. Selain itu adanya adanya lembaga lokal membuat komunitas lokal terbatas aktifitasnnya untuk masuk ke dalam hutan. Beberapa aksi konservasi yang dilakukan masyarakat dalam rangka pemeliharaan kawasan ekowisata tangkahan adalah menjaga kawasan dan melakukan aksi penanaman di sepanjang lokasi kawasan ekowisata tangkahan dan di lahan – lahan masyarakat.

2. Perubahan pola pikir

Aktifitas ekowisata yang dilakukan di kawasan ekowisata tangkahan telah mampu mengubah pola pikir masyarakat dari yang tidak ingin maju menjadi pola pikir yang berpikir untuk maju dan telah terbuka terhadap dunia luar. Selain itu, wawasan dan pengetahuan masyarakat semakin bertambah khususnya bagi anak – anak dan pemuda pemudi yang terdapat di desa ini.

3. Desa semakin ramai dan maju

Ekowisata yang dikembangkan di Kawasan Ekowisata Tangkahan telah mampu menghadirkan datangnya wisatawan yang berasal dari mancanegara maupun lokal. Datangnya wisatawan menyebabkan dusun yang dulu sepi menjadi lebih ramai dikarenakan para wisatawan yang akan datang berkunjung ke kawasan ekowisata tangkahan akan melewati beberapa dusun. Dan hal ini berdampak masyarakat merasa terhibur dengan hadirnya para wisatawan walaupun tanpa harus singgah ke dusun dimana masyarakat tinggal.

4. Pendapatan masyarakat dari sektor non ekowisata semakin lebih baik

Mata pencaharian utama komunitas lokal di sekitar kawasan ekowisata tangkahan adalah sebagai petani. Perbaikan kondisi sarana dan prasarana desa seperti jalan, jembatan, dsb karena adanya ekowisata menyebabkan pengangkutan hasil pertanian dan perkebunan menjadi lebih mudah. Hal ini menyebabkan harga harga produksi pertanian dan perkebunan menjadi lebih baik sehingga ini sangat mempengaruhi pendapatan rumah tangga.

Dampak Negatif

Dampak negatif yang ditimbulkan dengan adanya interaksi ekonomi komunitas lokal dengan taman nasional gunung leuser dapat menyebabkan terjadinya kerusakan kawasan. Interaksi ekonomi komunitas lokal yang saat ini memiliki peluang yang cukup besar untuk menyebabkan terjadinya kerusakan kawasan hutan bersumber dari aktifitas ekowisata yaitu

1. Pembangunan wisma dan fasilitas penunjang pariwisata

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di lokasi penelitian, pembangunan wisma dan fasilitas penunjang pariwisata yang dilakukan di Kawasan Ekowisata Tangkahan masih berada di dalam kondisi yang sesuai dengan rencana pengembangan kawasan. Namun, dengan semakin tingginya jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke kawasan ini menyebabkan semakin tingginya permintaan terhadap pembangunan wisma dan fasilitas penunjang pariwisata. Kondisi ini dapat memberikan peluang terhadap terancamnya kawasan Taman Nasional Gunung Leuser dikarenakan terjadinya perubahan lanskap ekologi kawasan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya kerusakan kawasan yang pada akhirnya akan berdampak buruk terhadap komunitas lokal dan kunjungan karena dapat menimbulkan bencana seperti yang pernah terjadi di kawasan wisata bukit lawang pada tahun 2003 yang juga terletak di pinggiran Taman Nasional Gunung Leuser.

2. Kunjugan wisatawan

Dari data kunjungan wisatawan yang datang ke Kawasan Ekowisata Tangkahan diketahui bahwa jumlah kunjugan wisatawan ke kawasan ini terus meningkat setiap tahunnya. Wisatawan yang datang ke kawasan ekowisata ini didominasi oleh wisatawan domestik yang lebih mengarah kepada wisata massal. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang menjadi tujuan perencanaan pengembangan ekowisata tangkahan yang lebih mengarah kepada wisata dengan minat khusus. Kondisi ini menyebabkan kawasan dapat mengalami kerusakan karena sudah melebihi kapasitas daya dukung dari kawasan. Selain itu kawasan menjadi kotor oleh sampah yang ditinggalkan oleh para pengunjung karena pada umumnya kawasan ini dikunjungi oleh wisatawan lokal yang belum memiliki kesadaran lingkungan yang cukup baik bila dibandingkan wisatawan mancanegara.

















































BAB III

PENUTUP



Kesimpulan

Penyelenggaraan ekowisata di Kawasan Ekowisata Tangkahan hanya memenuhi prinsip konservasi. Dengan demikian penyelenggaraan ekowisata di Kawasan Ekowisata Tangkahan belum berhasil karena belum memenuhi enam prinsip yang harus dimiliki suatu kawasan dalam rangka pengembangan ekowisata. Penyelenggaraan ekowisata di Kawasan Ekowisata Tangkahan belum memberikan peluang ekonomi yang baik bagi komunitas lokal. Dengan demikian transformasi ekonomi komunitas lokal berbasis sumberdaya alam ke non sumberdaya alam yaitu ekowisata belum berkembang sehingga menyebabkan masih adanya ancaman terhadap eksploitasi sumber daya hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.































DAFTAR PUSTAKA

Balai Taman Nasional Gunung Leuser. 2006. Rencana Strategis 2006 – 2010 Taman Nasional Gunung Leuser. Nangroe Aceh Darussalam.

Garrod B. 2003. Local Participation in the Planning and Management of Ecotourism : A Revised Model Approach. Journal of Ecotourism, Vol 2 (1) : 33 – 53. [Kembudpar] Kementerian Kebudayan dan Pariwisata, 2003. Ekowisata Prinsip dan Kriteria. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. Jakarta.

Kurniawan J, Burhanuddin. 2004. Pengembangan Ekowisata di Kawasan Ekosistem

Leuser : Salah Satu Pendekatan dalam Upaya Pelestarian Kawasan Ekosistem

Leuser. Unit Manajemen Leuser: Medan.

Miles M, Huberman A. 1992. Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode – Metode Baru. UI Press: Jakarta.

Pusat Informasi Kehutanan. 2009. Informasi Kawasan Konservasi di Indonesia. Departemen Kehutanan: Jakarta.

Ross S, Wall G. 1999. Ecotourism: Toward Congruence Between Theory And Practice. Tourism Management 20: 123-132.

Siburian R. 2006. Pengelolaan Taman Nasional Gunung Leuser Bagian Bukit

Lawang Berbasis Ekowisata. Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. VIII No.1 : 67 – 90.

Singarimbun M, Effendi S. 1989. Metode Penelitian Survey. LP3ES: Jakarta.

Soetopo T. 2006. Peranan Komunikasi Dalam Meningkatkan Partisipasi

Masyarakat Terhadap Lingkungan Hidup Melalui Ekowisata. Jurnal Komunikasi Vol.9 No 2 : 42 – 50

Stewart WP, Sekartjakrarini S. 1994. Disentangling Ecotourism, Annals of Tourism Research 21 (4): hlm 840 – 841.

Yuliani EL, Tadjuddin Dj. 2006. Memfasilitasi Sebuah Perubahan. Dalam: Yuliani, E.L., Tadjudin, Dj., Indriatmoko, Y., Munggoro, D.W., Gaban, F., Maulana, F. (editor). Kehutanan Multipihak: Langkah Menuju Perubahan. CIFOR: Bogor, Indonesia.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

re-introduce

KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN SKALA KECIL_RIMA TAMARA_14120114