IDENTIFIKASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK JATI (Tectona grandis Linn.f) DI PT. MELAPI TIMBER, KALIMANTAN TIMUR_Petrus Simbolon_121201062
TUGAS MATA KULIAH SOSIOLOGI KEHUTANAN
IDENTIFIKASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK JATI (Tectona grandis Linn.f) DI PT. MELAPI TIMBER, KALIMANTAN TIMUR
Oleh:
Petrus Simbolon
121201062
BAB I
PENDAHULUAN
Tectona grandis termasuk
ke dalam famili Verbenaceae. Jenis
ini tumbuh baik pada tipe iklim C dan F menurut Schmidt and Ferguson, dengan
curah hujan rata-rata 1200 sampai 2000 mm/tahun. Tectona grandis umumnya
tumbuh di dataran rendah dengan ketinggian
0 sampai 700 m dpl (Martawijaya et al.
1981 dalam Novendra 2008).
Pertumbuhan tertinggi diameter dan
tinggi T. grandis terjadi pada fase
awal pertumbuhan (umur tanaman 1 - 5 tahun). Riap pertumbuhan T. grandis perlahan-lahan menurun pada
usia tanaman > 5 tahun dan semakin menurun pada usia tanaman > 20 tahun
(Murtinah et al. 2015). Kayu T. grandis
memiliki berat jenis 0.67 dan kelas kuat II. Kayu T. grandis memiliki
kombinasi sifat yang baik dibandingkan jenis kayu lainnya, yaitu tahan lama,
kembang susut sedikit, mudah dikerjakan, memiliki penampakan serat kayu dan
tekstur yang indah serta kemampuan menahan beban yang baik (Heyne 1987 dalam Pasaribu dan Sisilia 2012).
T. grandis dikenal
sebagai penghasil kayu mewah dengan
kualitas terbaik (Suryana 2001). Kayu T.
grandis digunakan sebagai bahan baku
berbagai furniture, venir untuk
permukaan kayu lapis dan parket penutup lantai. Selain itu, kayu ini digunakan
pula sebagai bahan pembuat dok pelabuhan, bantalan rel kereta api, jembatan dan
kapal (Ariyantoro 2006). Produk-produk kayu T.
grandis memiliki nilai ekonomis yang tinggi (Marjenah 2007).
Menurut
Sumarni dan Muslich (2008) dalam
Hidayat et al. (2014), pasokan kayu T. grandis sangat terbatas, baik di
pasar domestik maupun internasional. Menurut Sanjaya (2011), Indonesia masih
kekurangan ketersediaan bahan baku kayu T.
grandis sebesar 1.7
juta m3/tahun.
Kekurangan tersebut telah diantisipasi melalui pengembangan hutan tanaman di
beberapa wilayah di Indonesia, salah satunya di provinsi Kalimantan Timur.
Potensi-potensi
tersebut di atas, menjadi alasan utama jenis T. grandis dipilih sebagai salah satu jenis tanaman yang akan
dibudidayakan pada lokasi penelitian. Di lain pihak, evaluasi kesesuaian lahan
penting untuk dilakukan pada tahap awal perencanaan budidaya tanaman hutan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kualitas dan karakteristik lahan di
areal Melapi Timber, serta mengidentifikasi kelas kesesuaian lahan untuk T. grandis dengan memanfaatkan tabel
kesesuaian lahan yang diterbitkan oleh lembaga pakar. Penelitian ini diharapkan
dapat memberikan informasi mengenai potensi pengembangan T. grandis yang sesuai pada lokasi penelitian.
BAB II
METODE PENELITIAN
Tempat dan
Waktu
Penelitian dilakukan pada dua tempat
yang berbeda. Pengambilan contoh tanah dilakukan di areal kerja PT. Melapi
Timber Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur.
Analisis tanah dilaksanakan di Laboratorium Balai Besar Litbang Sumberdaya
Lahan Pertanian (BBSDLP) Badan Litbang Pertanian Bogor.
Bahan dan Alat
Bahan
yang digunakan adalah contoh tanah dari lokasi penelitian, Peta Jenis Tanah
(skala 1 : 250 000 tahun 1996), Peta Kelas Lereng (skala 1 :
400 000 tahun 2014), Peta Iklim (skala 1 : 250 000 tahun 1979), Peta Areal
Kerja PT. Melapi Timber (skala 1 : 250 000 tahun 2005) dan bahan-bahan kimia
untuk analisis kimia tanah. Alat yang digunakan adalah software ArcGis versi 10.0, peralatan survei tanah dan peralatan
analisis kimia tanah (pH meter, spektrofotometer
dan konduktometer).
Metode Penelitian
Pembuatan peta kerja, satuan lahan (SL) dan pemilihan lokasi
pengamatan (mini pit)
Peta kerja merupakan hasil dari overlay tiga jenis peta (peta kelas
lereng, peta jenis tanah dan peta iklim) yang menjadi acuan dalam
pengambilan/peletakan posisi pengamatan profil tanah. Satuan lahan (SL)
diperoleh dari peta kerja. Peta kerja memperlihatkan seluruh satuan lahan (SL)
yang ada dan masing-masing memiliki satu atau lebih karakteristik yang berbeda
(kelas lereng, jenis tanah dan iklim). Satuan lahan penelitian kemudian
ditentukan secara langsung, berdasarkan luas lahan, jarak dan alat transportasi
ke lokasi pengamatan. Lokasi pengamatan mini
pit pada masing-masing SL terpilih ditentukan secara purposive sampling.
Pembuatan
mini pit dan pengambilan contoh tanah
Mini pit dibuat dengan kedalaman 60 cm dan lebar ± 0.5 sampai 1 m sebanyak 5 (lima) kali
ulangan pada masing-masing satuan lahan (SL) pengamatan. Jarak antara satu
ulangan dengan ulangan lainnya, minimal 10 meter. Ulangan dilakukan pada
populasi tanah yang seragam (warna dan tekstur tanah relatif sama). Contoh
tanah kedalaman 60 sampai 80 cm dan > 80 cm diambil menggunakan bor tanah,
untuk melihat kondisi drainase dan kedalaman efektif tanah. Contoh tanah
terganggu masing-masing horison diambil sebanyak 250 g/ulangan, kemudian
dikompositkan hingga homogen dan ditimbang sebanyak 1 kg untuk keperluan
analisis laboratorium.
Identifikasi
karakteristik lahan
Topografi dan iklim. Data topografi diperoleh dari Peta Kelas Kelerengan areal kerja PT.
Melapi Timber skala 1 : 400 000 tahun 2014. Data iklim diperoleh dari hasil
stasiun penakar curah hujan basecamp
Meluk milik PT. Melapi Timber.
Jumlah musim kering (bulan/tahun)
ditentukan berdasarkan kriteria Schmidt dan Ferguson, yaitu curah hujan kurang
dari 60 mm/tahun (Oktaviana 2012). Rata-rata curah hujan (mm) dihitung
menggunakan rumus (Juaeni 2006):
Rata-rata Curah Hujan ( x
) = ∑ x/n
Suhu rata-rata (oC)
ditentukan berdasarkan ketinggian tempat dari permukaan laut, menggunakan
pendekatan rumus Braak (1982) (Djainudin et
al. 2000 dalam Hidayat 2006):
Rata-rata suhu (oC) = 26.3 oC - (0.01
x elevasi dalam meter x 0.6 oC)
Tanah. Parameter yang diamati meliputi
sifat fisik dan kimia tanah. Sifat
fisik tanah yang diamati meliputi: 1
Warna dan karat,
yang ditentukan dengan membandingkan contoh tanah
menggunakan warna
baku Munsell Soil
Color Chart.
2 Tekstur tanah, yang
diidentifikasi menggunakan kunci determinasi tekstur tanah (Norclifft dan
Landon dalam Rowell 1994) dan
analisis laboratorium (tekstur 3 fraksi).
3 Drainase tanah, yang
ditentukan melalui kajian terhadap pola pewarnaan tanah dan keberadaan bercak
pada profil tanah kedalaman 0 sampai 100 cm berdasarkan Ritung et al. (2007) dan Wibowo (2008)
4 Kedalaman efektif tanah, yang
ditentukan dengan menggunakan bor tanah. Kedalaman efektif diasumsikan sama
dengan kemampuan bor tanah menembus tanah yang bersangkutan. Sepanjang lapisan
tanah tertentu masih bisa dibor dengan tangan, berarti lapisan tersebut masih
bisa ditembus perakaran (Wibowo 2008).
5 Batuan permukaan, yang ditentukan
berdasarkan pola penyebaran batuan lepas: b0/tidak ada (< 0.01% dari luas
areal), b1/sedikit (0.01 – 2% permukaan tanah tertutup), b2/sedang (3 – 5%), b3/banyak
(15 – 90%) dan b4/sangat banyak (> 90%) (Ritung et al. 2011).
Sifat
kimia tanah, diperoleh berdasarkan hasil uji di laboratorium untuk mengetahui:
pH, C-organik, N-Kjeldahl, P-total (Olsen atau Bray), K-total (Morgan), kation
dapat tukar (KTK dan KB), kemasaman dapat tukar (Al dan H-dd), salinitas dan
alkalinitas mengikuti petunjuk teknis analisis kimia tanah Balitbangtan.
Analisis
Data
Kesesuaian
lahan dalam penelitian ini dilakukan dengan metode matching, yaitu menggunakan metode Weight Factor Matching (WFM).
Matching merupakan penyesuaian
antara data dan informasi kualitas dan karakteristik lahan dengan persyaratan
kesesuaian lahan tanaman tertentu. Parameter persyaratan lahan untuk T. grandis
menurut Ritung et al. (2011),
dapat dilihat pada Tabel 1. Kualitas
dan karakteristik dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan rerata
terbobot/tertimbang (weighted average),
berdasarkan rumus (Supranto 2009):
x = ∑WiXi
∑Wi
Ket:
x
= rata-rata tertimbang
xi
= nilai data untuk horison tertentu
wi = tebal
horison tertentu (cm)
∑wi = tebal
seluruh horison
Tabel 1 Parameter kesesuaian lahan untuk Tectona grandis L.f
|
Parameter
|
|
Kelas Kesesuaian Lahan
|
|
|
|||
|
S1
|
S2
|
S3
|
N
|
||||
|
|
|||||||
|
Temperatur rerata (oC)
|
25 - 30
|
30
|
– 35
|
30
|
– 35
|
> 35
|
|
|
|
|
21
|
– 25
|
21
|
– 25
|
< 21
|
|
|
Curah
hujan (mm/thn)
|
1 500 – 2 000
|
2 000
|
– 2 250
|
|
-
|
> 2 500
|
|
|
|
|
1 250
|
– 1 500
|
|
|
< 1 000
|
|
|
Bulan
Kering
|
< 1
|
1
|
– 3
|
3
|
– 4
|
> 4
|
|
|
Drainase
|
Baik
|
Agak cepat, sedang
|
Cepat, agak
|
Terhambat, sangat
|
|||
|
|
|
|
|
terhambat
|
terhambat, sangat
|
||
|
|
|
|
|
|
|
cepat
|
|
|
Tekstur
|
Sedang, agak halus,
|
Agak kasar, sangat
|
Kasar, sangat halus
|
-
|
|||
|
|
halus
|
halus
|
|
|
|
||
|
Kedalaman
tanah (cm)
|
> 150
|
100
|
– 150
|
75 – 100
|
< 75
|
||
|
KTK
tanah (me/100 g)
|
> 16
|
5 – 16
|
< 5
|
-
|
|||
|
pH
|
5.5 – 7.0
|
7.0
|
– 7.5
|
7.5
|
– 8.0
|
> 8.0
|
|
|
|
|
5.0
|
– 5.5
|
4.5
|
– 5.0
|
< 4.5
|
|
|
C-organik
(%)
|
< 0.8
|
≥ 0.8
|
|
|
-
|
||
|
N total
(%)
|
Sedang
|
Rendah
|
Sangat rendah
|
-
|
|||
|
P total
(mg/100 g)
|
Sedang
|
Rendah
|
Sangat rendah
|
-
|
|||
|
K total
(mg/100 g)
|
Sedang
|
Rendah
|
Sangat rendah
|
|
|||
|
Salinitas
(dS/m)
|
< 4
|
4 - 6
|
6
|
– 8
|
> 8
|
||
|
Kelas
lereng (%)
|
< 8
|
8 - 15
|
15 -40
|
> 40
|
|||
|
Batuan
di permukaan (%)
|
< 3
|
3 - 15
|
15
|
– 40
|
> 40
|
||
Ket: S1 =
sangat sesuai, S2 = cukup sesuai, S3 = sesuai marginal, N = tidak sesuai
Weight
Factor Matching (WFM), yaitu teknik analisa untuk mendapatkan faktor pembatas dan kelas kesesuaian
lahan. Faktor pembatas yang dimaksudkan di sini adalah penyimpangan dari
kondisi optimal karakteristik dan kualitas lahan yang memberikan pengaruh buruk
untuk berbagai penggunaan lahan (Sys et
al. 1991 dalam Hardjowigeno dan
Widiatmaka 2007). Hasil matching nantinya dimasukkan ke dalam
kelas kesesuaian lahan berdasarkan Rayes (2007):
a. Kelas S1, sangat sesuai: lahan tidak mempunyai faktor pembatas yang
nyata terhadap penggunaan secara berkelanjutan atau faktor pembatas yang
bersifat minor dan tidak akan mereduksi produktivitas lahan secara nyata.
b.
Kelas S2, cukup sesuai: mempunyai faktor pembatas
dan
berpengaruh terhadap produktivitas, memerlukan tambahan masukan (input).
c. Kelas S3,
sesuai marginal: mempunyai faktor pembatas yang berat dan berpengaruh terhadap
produktivitas. Memerlukan tambahan input yang lebih besar dari pada lahan yang
tergolong S2 dan memerlukan modal yang besar dalam upaya perbaikan.
d. Tidak
sesuai: lahan yang tidak sesuai (N) karena mempunyai faktor pembatas yang
sangat berat dan/atau sulit diatasi.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Setiap
lahan mempunyai karakteristik yang berbeda pada masing-masing horison dalam
profil tanah dan satu karakteristik lahan dapat mempengaruhi beberapa kualitas
lahan (Darmawijaya 1992). Kualitas dan karakteristik lahan berdasarkan rerata
terbobot dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2. Kesesuaian lahan
untuk T. grandis berdasarkan metode
WFM pada SL I, III, IV dan V tergolong sesuai marginal (S3). Sebaliknya, SL II
tergolong tidak sesuai (N) untuk budidaya T.
grandis (Gambar 1). Kedalaman efektif tanah, pH, Kapasitas Tukar Kation
(KTK) dan Kalium (K) yang tidak sesuai menjadi faktor pembatas terberat bagi
pengembangan T. grandis pada lokasi
penelitian.
Kedalaman efektif tanah
Menurut Sumarna (2004), T. grandis memerlukan kondisi solum tanah yang dalam untuk
pertumbuhan yang optimal. Menurut Ritung et
al. (2011), kedalaman efektif tanah yang sesuai (S1) untuk T. grandis adalah > 150 cm.
Sebaliknya, kedalaman efektif tanah pada lokasi penelitian adalah 60 sampai 110
cm (Tabel 3). Hal tersebut mengakibatkan SL II tergolong N dan SL I, III, IV
serta V tergolong S3 untuk budidaya T.
grandis. Secara umum kedalaman efektif yang tidak sesuai tidak dapat
diperbaiki. Hal ini dikarenakan kegiatan pembongkaran tanah untuk penanaman
hanya dapat dilakukan pada lapisan padas lunak dan tipis.
pH
Rerata pH
tanah pada lokasi penelitian < 4.5 atau tergolong asam hingga sangat asam
(Tabel 3). Kondisi ini tidak sesuai (N) untuk budidaya T. grandis, karena jenis ini membutuhkan pH tanah antara 5.5 sampai
7 untuk pertumbuhan yang optimal. Namun, karena derajat kemasaman tanah
tersebut masih dapat ditingkatkan melalui kegiatan pengapuran maka lokasi
penelitian tergolong S3 untuk pengembangan T.
grandis.
|
Persyaratan penggunaan
|
|
Satuan
Lahan (SL)
|
|
|
||
|
/karakteristik SL
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
|
|
Temperatur (tc)
|
|
|
|
|
|
|
|
Temperatur rata-rata (oC)
|
25.62 – 25.68
|
25.44 – 25.54
|
25.35 – 25.48
|
25.89 – 25.91
|
25.62 – 25.66
|
|
|
Ketersediaan air (mm)
|
|
|
|
|
|
|
|
Curah
hujan (mm)
|
1 500 – 2 000
|
1 500 – 2 000
|
1 500 – 2 000
|
1 500 – 2 000
|
1500 – 2 000
|
|
|
Bulan
kering
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
|
(Schmidt
& Ferguson)
|
||||||
|
|
|
|
|
|
||
|
Ketersediaan
oksigen (oa)
|
|
|
|
|
|
|
|
Drainase
|
Agak baik
|
Baik
|
Agak baik
|
Agak baik
|
Baik
|
|
|
Media perakaran (rc)
|
|
|
|
|
|
|
|
Tekstur2)
|
Halus/
|
Agak halus/
|
Halus/
|
Agak halus/
|
Agak Halus/
|
|
|
|
silty
clay, clay
|
clay loam, sandy clay
|
silty
clay, clay
|
sandy clay
|
silty
clay loam
|
|
|
|
|
loam
|
|
loam
|
|
|
|
Kedalaman
tanah (cm)
|
100 – 110
|
60
|
98 – 100
|
100
|
100
|
|
|
Retensi hara (nr)
|
|
|
|
|
|
|
|
KTK tanah (cmolc/kg)1, 3)
|
13.20
|
9.12
|
15.96
|
25.51
|
13.18
|
|
|
Kejenuhan basa (%)1, 3)
|
27.63
|
4.62
|
28.15
|
74.29
|
3.83
|
|
|
pH H2O1, 3)
|
3.75
|
3.80
|
3.74
|
3.98
|
3.97
|
|
|
C-Organik (%)1, 3)
|
3.92
|
0.86
|
1.30
|
0.40
|
1.46
|
|
|
Hara tersedia (na)
|
|
|
|
|
|
|
|
N total (%)1,3)
|
0.14
|
0.07
|
0.13
|
0.04
|
0.25
|
|
|
P2O5 (mg/100
g)1, 3)
|
43.29
|
7.70
|
32.85
|
24.58
|
31.49
|
|
|
K2O
(mg/100 g)1, 3)
|
32.80
|
5.83
|
32.90
|
20.59
|
3.54
|
|
|
Toksisitas (xc)
|
|
|
|
|
|
|
|
Salinitas (dS/m)1, 3)
|
0.04
|
0.05
|
0.03
|
0.04
|
0.27
|
|
|
Sodisitas (xn)
|
|
|
|
|
|
|
|
Alkalinitas/ESP (%)1, 3)
|
0.63
|
0.50
|
0.20
|
0.18
|
1.63
|
|
|
Bahaya erosi (eh)
|
|
|
|
|
|
|
|
Lereng
(%)
|
0-8
|
0-8
|
0-8
|
15 – 25
|
25 - 40
|
|
|
Penyiapan
satuan lahan (lp)
|
|
|
|
|
|
|
|
Batuan
di permukaan (%)
|
0.01 - 2
|
3 – 15
|
0.01 – 2
|
0.01 – 2
|
0.01 - 2
|
|
1) merupakan
nilai tertimbang (terbobot) yang memperhitungkan tebal masing-masing lapisan
atau horison yang ada.
2) merupakan nilai lapisan (horison) yang paling
tebal.
3) merupakan tanah lapisan 0 – 60 cm.

Gambar
1 Peta Sebaran Kelas Kesesuaian Tectona grandis Linn.f di PT. Malapi
Timber
Pengapuran merupakan upaya pemberian
bahan kapur ke dalam tanah masam dengan tujuan untuk menaikkan pH tanah,
meningkatkan KTK dan menetralisir Al yang bersifat toxic bagi tanaman. Nilai pH tanah dapat dinaikkan sampai pada
tingkat dimana Al tidak bersifat racun lagi bagi tanaman dan unsur hara tersedia
dalam kondisi yang seimbang di dalam tanah (Hairiah et al. 2000). Pemberian kapur yang setara dengan 1 x Al-dd dapat
menurunkan kejenuhan Al dari 87 % menjadi kurang dari 20% (Sudaryono 2009).
KTK
Kapasitas tukar kation pada SL I,
II, III dan V adalah rendah atau ≤ 5 cmolc/kg (Tabel 3) dan
tergolong S3 untuk budidaya T. grandis.
Rendahnya kandungan KTK ini akan mempengaruhi ketersediaan hara di dalam tanah,
yang berperan penting dalam pembentukan jaringan tanaman. Upaya perbaikan
kondisi lahan dengan KTK yang rendah, dapat dilakukan melalui penambahan bahan
organik tanah (BOT).
Menurut Suwardjo et al. (1981) dalam Sumarni et al. (2010), bahan organik dapat
memperbaiki struktur tanah,
meningkatkan kapasitas menahan air, pori aerasi dan laju infiltrasi serta
memudahkan penetrasi akar, sehingga produktivitas lahan dan hasil tanaman dapat
meningkat. Pemberian bahan organik tidak hanya menghasilkan kondisi fisik tanah
yang baik, tetapi juga menyediakan bahan organik hasil pelapukan yang dapat
menambah unsur hara bagi tanaman, meningkatkan pH tanah dan KTK, menurunkan
Al-dd, serta meningkatkan aktivitas biologi tanah. Pemberian bahan organik juga
dapat mengurangi kebutuhan NPK (Subowo et
al. 1990, Sukristiyonubowo et al.
1993 dalam Sumarni et al. 2010). Sumber bahan organik yang
dapat digunakan untuk meningkatkan BOT, antara lain residu tanaman atau biomass, pupuk hijau, pupuk kandang,
kompos, limbah industri dan limbah rumah tangga (Munawar 2011).
K-total
Kalium total (K) pada lokasi
penelitian untuk SL II dan V adalah < 10 mg/100 g atau tergolong sangat
rendah. Menurut Ritung et al. (2011),
T. grandis membutuhkan kandungan
kalium (K) dalam jumlah sedang atau antara 21 sampai 40 mg/100 g. Rendahnya
kandungan K total pada satuan lahan tersebut, perlu ditingkatkan melalui upaya
pemupukan guna meningkatkan produktivitas tanaman.
Menurut Jones (1998); Havlin et al. (2005) dalam Munawar (2011), menyatakan bahwa kekurangan K pada tanaman
mengakibatkan daun muda berwarna hijau tua, bagian pinggir daun keriting atau
mengalami nekrosis antara tulang
daun, batang dan berbuku pendek.
Selain itu, tingkat kepekaan tanaman terhadap hama dan penyakit serta cuaca
yang ekstrim akan meningkat (Marschner 1986; Havlin et al. 2005 dalam Munawar
2011).
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kedalaman efektif tanah, pH, KTK dan
K-total yang tidak sesuai menjadi faktor pembatas terberat bagi budidaya Tectona grandis pada lokasi penelitian.
Secara keseluruhan lahan pada lokasi penelitian tergolong sesuai marginal (S3)
untuk pengembangan jenis ini, kecuali SL II. Namun, potensi pengembangan masih
dapat ditingkatkan menjadi cukup sesuai (S2) sampai sesuai (S1) melalui upaya
perbaikan kualitas lahan (peningkatan pH melalui pengapuran, penambahan BOT dan
pemupukan).
Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan
mengenai perbaikan kualitas lahan dan pertumbuhan tanaman pada lokasi
penelitian, serta analisis kesesuaian lahan bagi jenis-jenis pohon hutan
lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ariyantoro H.
2006. Budidaya Tanaman Kehutanan.Yogyakarta (ID): PT. Citra Aji
Parama.
Braak C. 1928. The Climate of The Netherlands Indies.Proc.
Royal Mogn. Batavia (ID): Meteor Observ. nr.14. pp. 192.
Darmawijaya MI. 1990. Kalasifikasi
Tanah : Dasar Teori bagi Peneliti Tanah
dan Pelaksana Pertanian di Indonesia. Jogjakarta (ID): Gadjah Mada Universty Press.
Djaenudin D. Marwan H. Subagyo H.
Mulyani A. dan Suharta N. 2000. Kriteria
Kesesuaian Lahan Untuk Komoditas
Pertanian. Pusat Penelitian Tanah dan
Agroklimat. Bogor (ID).
Hairiah K. Widianto. Noordwijk.
Cadisch G. 2000. Pengelolaan Tanah Masam Secara Biologi.Bogor (ID): ICRAF.
Hardjowigeno S. dan Widiatmaka.
2007. Evaluasi Kesesuaian Satuan SL dan Perencanaan Tataguna Satuan Lahan.
Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University
Press.
Havlin JL, Beaton JD, Tisdale SL,
Nelson WL. 1999. Soil Fertility and Fertilizers. An Introduction to Nutrient
Management. Sixth Edition. Upper Saddle River, New Jersey 07458 (US): Prentice
Hall.
Hidayat MY. 2006. Kesesuaian Satuan
Lahan untuk Tanaman Sengon (Paraserianthes
falcataria (L) Nielsen) pada beberapa Satuan Kelas Lereng (Studi Kasus di
Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung, Jawa Barat). [Skripsi]. Bogor (ID):
Program Studi Budidaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB.
Hidayat R. Yusran. Sari I. 2014.
Hama pada Tegakan Jati (Tectona grandis
L.f) di Desa Talaga Kecamatan Dampelas Kabupaten Donggala. Warta Rimba 2 (1): 17-23.
Heyne
K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia II. Jakarta (ID): Badan Litbang Kehutanan.
Jones Jr. JB. 1998. Plant Nutrien Manual. Boca Raton (US):
CRC Press.
Juaeni I. 2006. Analisis Variabilitas Curah Hujan Wilayah
Indonesia berdasarkan Pengamatan Tahun 1975-2004. Jakarta (ID): Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional.
Marjenah. 2007. Pertumbuhan Tanaman
Jati (Tectona grandis L.F) pada beberapa Sistem Lahan di Kalimantan Timur. Samarinda (ID): Fakultas Kehutanan Universitas
Mulawarman. Rimba Kalimantan; 12 (1): 43-50.
Marschener H. 1986. Mineral Nutrition of Hingher Plants.
London (GB): Academic Press.
Martawijaya A. Kartasujana I. Kadir K. Prawira SA.1981. Atlas Kayu Indonesia Jilid I. Bogor (ID): Balai Penelitian dan Pengembangan
Departemen Kehutanan.
Munawar M. 2011. Kesuburan
Tanah dan Nutrisi Tanaman. Bogor
(ID): IPB Press.
Novendra I. Y. 2008. Karakakteristik Biometrik Pohon Jati (Tectona grandis L.f.) Studi Kasus di
Bagian Hutan Bancar KPH Jatinegoro Perum Perhutani Unit Jawa Timur [Skripsi].
Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Oktaviana A. 2012. Analisis
Karakteristik Hujan dan Penggunaan Lahan terhadap Debit Aliran Sungai DAS
Ciliwung Hulu. [Skripsi]. Bogor (ID): Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya
Lahan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Pasaribu G. Sisilia L. 2012.
Peningkatan Mutu Kayu Jati (Tectona
grandis) Hasil Penjarangan asal Kabupaten Cianjur. Bogor J. Tengkawang; 2(1): 27-37.
Rayes ML. 2007. Metode Inventarisasi Sumberdaya Satuan
Lahan. Yogyakarta (ID): Penerbit ANDI.
Ritung S. Wahyunto. Agus F. Hidayat
H. 2007. Panduan Evaluasi Kesesuaian
Satuan SL : dengan contoh peta arahan penggunaan satuan SL kabupaten Aceh Barat.
Bogor (ID): Balai Penelitian Tanah
dan World Agroforestry Center.
Ritung S. Nugroho K. Mulyani A.
Suryani E. 2011. Petunjuk Teknis Evaluasi
Lahan untuk Komuditas
Pertanian. Bogor (ID): Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Balai Penelitian dan
Pengembangan Pertanian.
Rowel. 1994. Kunci Determinasi untuk Pendugaan Kelas Tekstur Tanah. Wibowo C, penerjemah.
Sanjaya H. 2011. Lebih Untung dengan Tanaman Jati Emas. Yogyakarta (ID): Cemerlang
Publishing.
Subowo. Subagja J. Sudjadi M. 1990.
Pengaruh Bahan Organik terhadap Pencucian Hara Tanah Ultisol Rangkasbitung Jawa
Barat. Pemberitaan Penel Tanah dan Pupuk; 9: 26-31.
Sudaryono. 2009. Tingkat Kesuburan Tanah Ultisol pada Satuan
SL Pertambangan Batubara Sangatta Kalimantan Timur. Pusat Teknologi Lingkungan,
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Politeknik Pertanian Negeri Payakuban
dan Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Padang (ID). J.Tek.Ling. 10 (3): 337-346.
Sumarna Y. 2004. Budidaya Jati. Jakarta (ID): Penebar
Swadaya.
Sumarni. Muclis. 2008. Kelas Awet
Jati Cepat Tumbuh dan Lokal pada berbagai Umur Pohon. Palembang (ID): Pusat
Litbang Hasil Hutan Palembang.
Sumarni NR. Rosliani R. Dauriat AS.
2010. Pengelolaan Fisik, Kimia dan Biologi Tanah untuk Meningkat Kesuburan Lahan
dan Hasil Cabai Merah. J. Hort 20
(2): 130-137.
Sukristiyonubowo. Mulyadi P. Wigena. Kasno A. 1993. Pengaruh
Penambahan Bahan Organik, Kapur, dan Pupuk NPK terhadap Sifat Kimia Tanah dan
Hasil Kacang Tanah. Pemberitaan Penel Tanah dan Pupuk. 11: 1-6.
Supranto. 2009. Statistika Teori dan Aplikasi Edisi 7.Jilid 1. Jakarta (ID):
Erlangga.
Suryana Y. 2001. Budibaya Jati. Bogor (ID): Swadaya.
Suwardjo H. 1981. Peranan Sisa-sisa Tanaman dalam Konservasi Tanah dan Air pada
Pola Usahatani Tanaman Semusim. Disertasi Doktor. SPS. Bogor (ID): IPB.
Sys C. Ranst E.V. Debaveye J. 1991. 1993. Land Evaluation
part III Crop Requirements. Brussels – Belgium (BE): General Administratin for
Development Cooperation Place de Champ de Mars (5): 57-1050.
Wibowo C. 2008. Prosedur Analisis Kesesuaian
Satuan Lahan dan Kajian Kemungkinan
Penerapannya untuk Budidaya Gaharu. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan IPB.
Komentar
Posting Komentar