INTERAKSI MASYARAKAT DENGAN HUTAN DAN LINGKUNGAN SEKITARNYA DI KAWASAN DAN DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL KUTAI_Suryani Dwi Cahya_141201042



Resume Sosiologi Penyuluhan Kehutanan  Semester Antara


INTERAKSI MASYARAKAT DENGAN HUTAN DAN LINGKUNGAN SEKITARNYA DI KAWASAN DAN DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL KUTAI




oleh:

Suryani Dwi Cahya
141201042









PENDAHULUAN

Taman Nasional Kutai yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No.325/Kpts-II/1995 dengan luas 198.629 ha, memiliki berbagai tipe vegetasi utama yaitu vegetasi hutan pantai, hutan mangrove, hutan rawa air tawar, hutan kerangas, hutan genangan dataran rendah, hutan ulin/meranti/kapur dan hutan Dipterocarpaceae campuran (Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, 2003). Sejak tahun 2000-an, taman nasional ini menghadapi permasalahan seperti kebakaran hutan, pembalakan illegal dan perambahan oleh masyarakat yang membuka lahan untuk pemukiman, perladangan serta prasarana umum (Taman Nasional Kutai, 2010).

Kerusakan habitat ini mengakibatkan satwa liar seperti orangutan yang populasinya hanya tinggal sekitar 2.000 individu, mencari makan ke luar kawasan taman nasional yaitu ke daerah penyangga seperti kebun rakyat dan hutan tanaman industri. Dampak perambahan hutan menyebabkan berkurangnya luas kawasan hutan, saat ini luas kawasan hutan yang masih tersisa sekitar 145.000 ha atau 73%, berupa hutan primer, sekunder, rawa, belukar rawa, mangrove, sedangkan sisanya 53.629 ha atau 27%, berupa belukar, semak, alang-alang, tanah terbuka, tambak, pertanian campuran, pemukiman masyarakat serta sarana dan prasarana (Taman Nasional Kutai, 2010).

Pembangunan industri dibidang pertambangan batubara, pembuatan pupuk dan pengolahan kayu memacu kedatangan masyarakat pendatang ke Kalimantan Timur. Perusahaan tersebut diantaranya adalah PT. Kaltim Prima Coal, PT. Pupuk Bontang, PT. Pupuk Kaltim, HTI PT. Surya Hutani Jaya dan HTI PT. Kiani Lestari. Lokasi perusahaan terletak diperbatasan TNK atau daerah penyangganya. Dengan berjalannya waktu, banyak pekerja perusahaan yang pada akhirnya mengalami pemutusan hubungan kerja seperti yang terjadi pada ex HTI PT. Kiani Lestari. Akibatnya, karena keterbatasan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, mereka melakukan pembukaan hutan dan memanfaatkan sumberdaya alam di TNK untuk membangun rumah dan berladang. Selanjutnya, masyarakat yang mengetahui hal ini kemudian beranggapan bahwa perambahan hutan merupakan suatu peluang untuk memperluas lahan garapan dan meningkatkan pendapatan.

1. Tipologi Masyarakat di Kawasan dan Daerah Penyangga TN Kutai



Masyarakat yang ada di daerah penyangga dan di dalam kawasan TNK berasal dari berbagai etnis seperti Kutai, Dayak, Banjar, Bugis, Tator dan Jawa.Kampung Jawa merupakan wilayah dimana masyarakat yang berasal dari etnis Jawa bertempat tinggal dengan jumlah penduduk sebanyak 22 KK. Mayoritas penduduk kampung Jawa adalah peserta transmigran yang datang ke Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 1992. Sementara itu, penduduk Desa Singa Geweh berasal dari beberapa etnis yang berbeda yaitu Kutai, Dayak dan Banjar. Pola interaksi dengan lingkungan setempat serta pola usahatani yang dikembangkan oleh ketiga etnis tersebut cukup beragam. Selain memiliki lahan garapan sendiri, warga masyarakat juga melakukan pembukaan lahan di dalam kawasan TNK.

Populasi warga di Singa Geweh yang memasuki wilayah TNK untuk membuka lahan dan berusahatani sekitar 50 KK yang berasal dari ketiga etnis tersebut di atas. Kelompok besar tersebut terbagi lagi ke dalam sub-sub kelompok yang beranggotakan rata-rata 10 jiwa. Luas lahan ga-rapan rata-rata di dalam TNK sekitar 2 ha. Tujuan pembukaan lahan selain untuk budidaya tanaman pangan semusim juga untuk budidaya tanaman tahunan seperti karet. Perambahan lahan di dalam kawasan hutan TNK terjadi sangat ekstensif, bahkan pengalihan lahan garapan sudah banyak terjadi dengan cara diperjualbelikan. Tujuan perambahan lahan di dalam kawasan hutan TNK selain untuk mendapatkan lahan garapan, juga untuk mendapatkan kayu ulin. Masyarakat lokal seperti etnis Dayak dan Kutai, rata-rata mereka memiliki kebun seluas 4-5 ha, namun tidak diusahakan secara intensif.

Interaksi masyarakat etnis Jawa dengan lingkungan biofisik yang ada di sekitarnya cukup erat, hal ini terlihat dari pembukaan lahan garapan, intensitas sistem budidaya tanaman, jenis tanaman, dan pola tanam yang diterapkan di kawasan dan daerah penyangga TNK. Disamping untuk mendapatkan lahan garapan, masyarakat juga memanfaatkan jenis pohon yang ditemukan di kawasan untuk bahan bangunan, kapal dan kayu bakar. Jenis jamur dan beberapa jenis satwaliar seperi babi hutan dimanfaatkan untuk dikonsumsi. Babi butan selain dikonsumsi juga digunakan untuk sesajen. Etnis Kutai dan Bugis memiliki beberapa persamaan dalam melaksanakan kegiatan usahataninya, namun dalam pemeliharaan tanaman etnis Bugis lebih intensif.

2. Potensi Pemanfaatan Sumberdaya Alam

Potensi sumberdaya alam yang ada di kawasan dan daerah penyangga TNK cukup besar. Masyarakat umumnya sudah memanfaatkan berbagai jenis tanaman



lokal yang terdapat di sekitar tempat tinggal baik untuk pemenuhan kebutuhan sendiri (subsisten) maupun untuk diperjualbelikan. Jenis tanaman lokal tersebut umumnya sebagai penghasil buah dan kayu untuk bahan bangunan. Disamping itu, masyarakat juga memanfaatkan keanekaragaman hayati satwaliar. Pohon buah-buahan lokal tersebut dipanen dari hutan, dikelola dalam hutan atau setengah dibudidayakan di pekarangan atau di kebun rakyat. Penangkapan ikan dilakukan dengan cara memancing, menjaring, meracun maupun menyetrum. Cara memancing secara tradisional, untuk ikan-ikan kecil. Jumlah orang yang memancing di Sungai Sangata adalah sebanyak 10 orang/hari/ dusun dengan hasil rata-rata 3-5 kg/orang. Hasil tangkapan ikan tersebut umumnya dijual atau dikonsumsi sendiri. Selain memanfaatkan berbagai jenis tanaman yang ada di sekitarnya dan ikan yang ada di sungai tersebut, masyarakat juga memanfaatkan berbagai jenis burung baik untuk keperluan upacara adat,

3.    Pola Usahatani Kebun Rakyat Menurut Etnis di Daerah Penyangga TN Kutai

Pola usahatani di kebun yang dibebani hak milik dan dikembangkan oleh masyarakat sangat beragam sesuai dengan tipologi masyarakat pelakunya. Etnis Jawa umumnya lebih menitikberatkan pada sistem usahatani secara intensif dengan budidaya berbagai jenis tanaman pangan semusim dan sayur-sayuran. Sementara pada etnis pendatang, selain menitikberatkan pada budidaya tanaman semusim, lebih menitikberatkan pada pengembangan tanaman serbaguna dan tanaman tahunan lainnya. Pola usahatani di kebun milik pada beberapa kelompok etnis di daerah penyangga TNK adalah sebagai berikut:

a. Pola Kebun Rakyat Etnis Jawa Pola usaha tani di kebun milik masyarakat pendatang yang berasal dari Jawa umumnya didominasi oleh berbagai jenis tanaman pangan, sayur-sayuran serta berbagai jenis tanaman serbaguna dan tanaman buah-buahan juga tanaman penghasil minyak atsiri

b. Pola Kebun Rakyat Etnis Kutai Pola usahatani kebun rakyat yang umumnya dikembangkan di kebun rakyat oleh etnis Kutai adalah kombinasi antara berbagai tanaman pangan semusim seperti singkong, sayur-sayuran, tanaman serbaguna serta buah-buahan.

c. Interaksi masyarakat Kutai dengan lingkungan biofisik yang ada di sekitarnya sangat erat. Berbagai jenis tanaman dimanfaatkan baik sebagai tanaman obat, pewarna alami maupun yang dikonsumsi langsung. Pola Kebun Rakyat Etnis Bugis




Jika dibandingkan dengan etnis Kutai dan etnis Jawa, pola usahatani kebun rakyat pada etnis Bugis kurang begitu beragam. Jenis tanaman yang ditemukan didominasi oleh tanaman pangan semusim



4. Interaksi Masyarakat dengan TN Kutai



Lokasi TNK yang berbatasan langsung dengan tempat pemukiman masyarakat, aksesibilitas cukup tinggi. Di lain pihak, kebutuhan akan lahan garapan sangat tinggi terutama bagi pendatang telah menyebabkan interaksi masyarakat dengan hutan menjadi sangat intensif. Tingginya interaksi ini telah mendorong terjadinya perambahan hutan secara ekstensif di dalam TNK. Luas perambahan saat ini adalah 52.549 ha (TN Kutai, 2008). Sejak tahun 2000-an, perambahan yang dilakukan oleh keempat etnis tersebut semakin marak. Walaupun sebetulnya, pola usahatani masyarakat lokal ini berbeda dengan pendatang yang berusahatani secara intensif. Motivasi perambahan kawasan TNK sangat bervariasi. Ada yang semata-mata untuk mendapatkan tambahan lahan garapan untuk budidaya tanaman pangan semusim dan tanaman tahunan jangka panjang namun ada juga yang mempunyai tujuan lain seperti penguasaan dan jual beli lahan. diharapkan fungsi kawasan ini dapat kembali seperti semula melalui kegiatan restorasi dan pengelolaan zonasi secara bertahap dari zona pemanfaatan tradisional ke zona restorasi

KESIMPULAN



Interaksi masyarakat ke dalam kawasan TNK dilakukan dengan berbagai alasan terutama untuk memperluas lahan garapan. Masyarakat etnis Jawa dan Bugis (1-2 ha), sedangkan masyarakat etnis Dayak dan Kutai (2-5 ha) yang ditanami dengan tanaman pangan semusim, tanaman industri dan tanaman pemukiman. Sedangkan bagi pemerintah daerah, untuk memperluas daerah dalam rangka otonomi daerah.



SUMBER



Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol. 8 No. 2 : 129-142, 2011


Resume Sosiologi Penyuluhan Kehutanan  Semester Antara


INTERAKSI MASYARAKAT DENGAN HUTAN DAN LINGKUNGAN SEKITARNYA DI KAWASAN DAN DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL KUTAI




oleh:

Suryani Dwi Cahya
141201042









PENDAHULUAN

Taman Nasional Kutai yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No.325/Kpts-II/1995 dengan luas 198.629 ha, memiliki berbagai tipe vegetasi utama yaitu vegetasi hutan pantai, hutan mangrove, hutan rawa air tawar, hutan kerangas, hutan genangan dataran rendah, hutan ulin/meranti/kapur dan hutan Dipterocarpaceae campuran (Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, 2003). Sejak tahun 2000-an, taman nasional ini menghadapi permasalahan seperti kebakaran hutan, pembalakan illegal dan perambahan oleh masyarakat yang membuka lahan untuk pemukiman, perladangan serta prasarana umum (Taman Nasional Kutai, 2010).

Kerusakan habitat ini mengakibatkan satwa liar seperti orangutan yang populasinya hanya tinggal sekitar 2.000 individu, mencari makan ke luar kawasan taman nasional yaitu ke daerah penyangga seperti kebun rakyat dan hutan tanaman industri. Dampak perambahan hutan menyebabkan berkurangnya luas kawasan hutan, saat ini luas kawasan hutan yang masih tersisa sekitar 145.000 ha atau 73%, berupa hutan primer, sekunder, rawa, belukar rawa, mangrove, sedangkan sisanya 53.629 ha atau 27%, berupa belukar, semak, alang-alang, tanah terbuka, tambak, pertanian campuran, pemukiman masyarakat serta sarana dan prasarana (Taman Nasional Kutai, 2010).

Pembangunan industri dibidang pertambangan batubara, pembuatan pupuk dan pengolahan kayu memacu kedatangan masyarakat pendatang ke Kalimantan Timur. Perusahaan tersebut diantaranya adalah PT. Kaltim Prima Coal, PT. Pupuk Bontang, PT. Pupuk Kaltim, HTI PT. Surya Hutani Jaya dan HTI PT. Kiani Lestari. Lokasi perusahaan terletak diperbatasan TNK atau daerah penyangganya. Dengan berjalannya waktu, banyak pekerja perusahaan yang pada akhirnya mengalami pemutusan hubungan kerja seperti yang terjadi pada ex HTI PT. Kiani Lestari. Akibatnya, karena keterbatasan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, mereka melakukan pembukaan hutan dan memanfaatkan sumberdaya alam di TNK untuk membangun rumah dan berladang. Selanjutnya, masyarakat yang mengetahui hal ini kemudian beranggapan bahwa perambahan hutan merupakan suatu peluang untuk memperluas lahan garapan dan meningkatkan pendapatan.

1. Tipologi Masyarakat di Kawasan dan Daerah Penyangga TN Kutai



Masyarakat yang ada di daerah penyangga dan di dalam kawasan TNK berasal dari berbagai etnis seperti Kutai, Dayak, Banjar, Bugis, Tator dan Jawa.Kampung Jawa merupakan wilayah dimana masyarakat yang berasal dari etnis Jawa bertempat tinggal dengan jumlah penduduk sebanyak 22 KK. Mayoritas penduduk kampung Jawa adalah peserta transmigran yang datang ke Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 1992. Sementara itu, penduduk Desa Singa Geweh berasal dari beberapa etnis yang berbeda yaitu Kutai, Dayak dan Banjar. Pola interaksi dengan lingkungan setempat serta pola usahatani yang dikembangkan oleh ketiga etnis tersebut cukup beragam. Selain memiliki lahan garapan sendiri, warga masyarakat juga melakukan pembukaan lahan di dalam kawasan TNK.

Populasi warga di Singa Geweh yang memasuki wilayah TNK untuk membuka lahan dan berusahatani sekitar 50 KK yang berasal dari ketiga etnis tersebut di atas. Kelompok besar tersebut terbagi lagi ke dalam sub-sub kelompok yang beranggotakan rata-rata 10 jiwa. Luas lahan ga-rapan rata-rata di dalam TNK sekitar 2 ha. Tujuan pembukaan lahan selain untuk budidaya tanaman pangan semusim juga untuk budidaya tanaman tahunan seperti karet. Perambahan lahan di dalam kawasan hutan TNK terjadi sangat ekstensif, bahkan pengalihan lahan garapan sudah banyak terjadi dengan cara diperjualbelikan. Tujuan perambahan lahan di dalam kawasan hutan TNK selain untuk mendapatkan lahan garapan, juga untuk mendapatkan kayu ulin. Masyarakat lokal seperti etnis Dayak dan Kutai, rata-rata mereka memiliki kebun seluas 4-5 ha, namun tidak diusahakan secara intensif.

Interaksi masyarakat etnis Jawa dengan lingkungan biofisik yang ada di sekitarnya cukup erat, hal ini terlihat dari pembukaan lahan garapan, intensitas sistem budidaya tanaman, jenis tanaman, dan pola tanam yang diterapkan di kawasan dan daerah penyangga TNK. Disamping untuk mendapatkan lahan garapan, masyarakat juga memanfaatkan jenis pohon yang ditemukan di kawasan untuk bahan bangunan, kapal dan kayu bakar. Jenis jamur dan beberapa jenis satwaliar seperi babi hutan dimanfaatkan untuk dikonsumsi. Babi butan selain dikonsumsi juga digunakan untuk sesajen. Etnis Kutai dan Bugis memiliki beberapa persamaan dalam melaksanakan kegiatan usahataninya, namun dalam pemeliharaan tanaman etnis Bugis lebih intensif.

2. Potensi Pemanfaatan Sumberdaya Alam

Potensi sumberdaya alam yang ada di kawasan dan daerah penyangga TNK cukup besar. Masyarakat umumnya sudah memanfaatkan berbagai jenis tanaman



lokal yang terdapat di sekitar tempat tinggal baik untuk pemenuhan kebutuhan sendiri (subsisten) maupun untuk diperjualbelikan. Jenis tanaman lokal tersebut umumnya sebagai penghasil buah dan kayu untuk bahan bangunan. Disamping itu, masyarakat juga memanfaatkan keanekaragaman hayati satwaliar. Pohon buah-buahan lokal tersebut dipanen dari hutan, dikelola dalam hutan atau setengah dibudidayakan di pekarangan atau di kebun rakyat. Penangkapan ikan dilakukan dengan cara memancing, menjaring, meracun maupun menyetrum. Cara memancing secara tradisional, untuk ikan-ikan kecil. Jumlah orang yang memancing di Sungai Sangata adalah sebanyak 10 orang/hari/ dusun dengan hasil rata-rata 3-5 kg/orang. Hasil tangkapan ikan tersebut umumnya dijual atau dikonsumsi sendiri. Selain memanfaatkan berbagai jenis tanaman yang ada di sekitarnya dan ikan yang ada di sungai tersebut, masyarakat juga memanfaatkan berbagai jenis burung baik untuk keperluan upacara adat,

3.    Pola Usahatani Kebun Rakyat Menurut Etnis di Daerah Penyangga TN Kutai

Pola usahatani di kebun yang dibebani hak milik dan dikembangkan oleh masyarakat sangat beragam sesuai dengan tipologi masyarakat pelakunya. Etnis Jawa umumnya lebih menitikberatkan pada sistem usahatani secara intensif dengan budidaya berbagai jenis tanaman pangan semusim dan sayur-sayuran. Sementara pada etnis pendatang, selain menitikberatkan pada budidaya tanaman semusim, lebih menitikberatkan pada pengembangan tanaman serbaguna dan tanaman tahunan lainnya. Pola usahatani di kebun milik pada beberapa kelompok etnis di daerah penyangga TNK adalah sebagai berikut:

a. Pola Kebun Rakyat Etnis Jawa Pola usaha tani di kebun milik masyarakat pendatang yang berasal dari Jawa umumnya didominasi oleh berbagai jenis tanaman pangan, sayur-sayuran serta berbagai jenis tanaman serbaguna dan tanaman buah-buahan juga tanaman penghasil minyak atsiri

b. Pola Kebun Rakyat Etnis Kutai Pola usahatani kebun rakyat yang umumnya dikembangkan di kebun rakyat oleh etnis Kutai adalah kombinasi antara berbagai tanaman pangan semusim seperti singkong, sayur-sayuran, tanaman serbaguna serta buah-buahan.

c. Interaksi masyarakat Kutai dengan lingkungan biofisik yang ada di sekitarnya sangat erat. Berbagai jenis tanaman dimanfaatkan baik sebagai tanaman obat, pewarna alami maupun yang dikonsumsi langsung. Pola Kebun Rakyat Etnis Bugis




Jika dibandingkan dengan etnis Kutai dan etnis Jawa, pola usahatani kebun rakyat pada etnis Bugis kurang begitu beragam. Jenis tanaman yang ditemukan didominasi oleh tanaman pangan semusim



4. Interaksi Masyarakat dengan TN Kutai



Lokasi TNK yang berbatasan langsung dengan tempat pemukiman masyarakat, aksesibilitas cukup tinggi. Di lain pihak, kebutuhan akan lahan garapan sangat tinggi terutama bagi pendatang telah menyebabkan interaksi masyarakat dengan hutan menjadi sangat intensif. Tingginya interaksi ini telah mendorong terjadinya perambahan hutan secara ekstensif di dalam TNK. Luas perambahan saat ini adalah 52.549 ha (TN Kutai, 2008). Sejak tahun 2000-an, perambahan yang dilakukan oleh keempat etnis tersebut semakin marak. Walaupun sebetulnya, pola usahatani masyarakat lokal ini berbeda dengan pendatang yang berusahatani secara intensif. Motivasi perambahan kawasan TNK sangat bervariasi. Ada yang semata-mata untuk mendapatkan tambahan lahan garapan untuk budidaya tanaman pangan semusim dan tanaman tahunan jangka panjang namun ada juga yang mempunyai tujuan lain seperti penguasaan dan jual beli lahan. diharapkan fungsi kawasan ini dapat kembali seperti semula melalui kegiatan restorasi dan pengelolaan zonasi secara bertahap dari zona pemanfaatan tradisional ke zona restorasi

KESIMPULAN



Interaksi masyarakat ke dalam kawasan TNK dilakukan dengan berbagai alasan terutama untuk memperluas lahan garapan. Masyarakat etnis Jawa dan Bugis (1-2 ha), sedangkan masyarakat etnis Dayak dan Kutai (2-5 ha) yang ditanami dengan tanaman pangan semusim, tanaman industri dan tanaman pemukiman. Sedangkan bagi pemerintah daerah, untuk memperluas daerah dalam rangka otonomi daerah.



SUMBER



Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol. 8 No. 2 : 129-142, 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

re-introduce

KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN SKALA KECIL_RIMA TAMARA_14120114